Produsen komponen otomotif PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) mengakui baterai kecil atau aki lithium buatannya belum masuk ke jalur pasokan produsen otomotif (original equipment manufacturer/OEM). Perusahaan saat ini masih memprioritaskan pasar aftermarket sambil menunggu respons industri kendaraan. Head of Business Development DRMA Eko Maryanto mengatakan, hingga kini belum ada kerja sama pasokan langsung ke pabrikan kendaraan untuk produk aki lithium. “Kalau untuk di OEM, kita belum. Kita memang fokus di aftermarket dulu. Setelah itu baru akan masuk ke OEM,” ujar Eko di JIExpo Kemayoran, Jakarta, belum lama ini. Ilustrasi aki lithium buat motor di IIMS 2026 Menurut dia, langkah tersebut diambil untuk memastikan kesiapan produk dari sisi kualitas, penerimaan pasar, hingga kesiapan produksi sebelum ditawarkan ke pabrikan. Meski belum dilirik OEM, minat justru datang dari perusahaan dengan armada operasional besar. Sejumlah perusahaan fleet, jasa trucking, hingga pertambangan mulai menjajaki penggunaan aki lithium karena mempertimbangkan efisiensi biaya perawatan. “Perusahaan trucking itu merasakan ganti aki hampir tiap enam bulan. Nah lithium ini kan umurnya lebih panjang, dan harganya juga tidak terlalu beda jauh. Itu yang diharapkan oleh mereka,” kata Eko. Perusahaan jasa angkutan batu bara juga disebut telah melakukan uji coba penggunaan aki lithium. Namun, kerja sama masih dalam tahap pengujian dan belum masuk kontrak komersial. Ilustrasi aki lithium buat motor di IIMS 2026 Spesifikasi Aki Lithium Dari sisi spesifikasi, aki lithium diklaim memiliki usia pakai lebih dari lima tahun. Bandingkan dengan aki konvensional berbasis timbal (lead acid) yang rata-rata hanya bertahan satu hingga satu setengah tahun. Efisiensi juga menjadi nilai tambah. Eko menyebut konsumsi bahan bakar kendaraan bermesin konvensional lebih hemat sekitar 5 persen karena sistem pengisian daya berhenti otomatis saat aki penuh, membuat kerja komponen kelistrikan seperti rectifier regulator lebih ringan. Waktu pengisian daya juga lebih singkat, sekitar dua jam hingga penuh, sedangkan aki konvensional bisa memerlukan sembilan sampai 10 jam. Ketahanan saat kendaraan jarang digunakan menjadi keunggulan lain. Dalam kondisi tidak dipakai hingga satu tahun, penurunan daya disebut hanya sekitar 5–10 persen. Pada pengujian internal, mobil yang tidak digunakan selama setahun hanya mengalami penurunan daya sekitar 7 persen. Meski menawarkan sejumlah keunggulan, tantangan terbesar masih pada harga dan rantai pasok bahan baku. Saat ini harga aki lithium sekitar 20–30 persen lebih mahal dibanding aki konvensional. Selain itu, sel baterai masih diperoleh melalui kerja sama dengan mitra di China. DRMA menargetkan dapat memproduksi sel sendiri pada tahun ini atau tahun depan, tetapi bahan kimia seperti precursor tetap harus diimpor. “Untuk sel kita masih kerja sama dengan China. Tapi mungkin tahun ini atau tahun depan kita akan bikin sel sendiri. Kendalanya memang di material kimianya, precursor-nya mungkin kita impor,” ujar Eko. Lithium sebagai bahan baku utama tidak banyak tersedia di Indonesia dan umumnya berasal dari Australia. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam membangun rantai pasok yang sepenuhnya mandiri di dalam negeri. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang