Mini Cooper merupakan salah satu mobil ikonik yang masih ada sampai sekarang. Sejarah panjang merek Mini lalu model Cooper menjadi nilai tambah mobil yang desainnya unik tersebut. Mei, pemilik Mini Cooper lansiran 2020 menceritakan pengalamannya menggunakan mobil perkotaan tersebut selama lima tahun. Paling seru adalah rasa mengemudinya yang ajeg dan menyenangkan. "Naik Mini secara sendiri atau berdua sama pasangan sangat enak, ngebut. Lalu mau dibejek atau diinjak segimana pun aman, enggak terlalu menguras kantong karena irit," kata Mei kepada Kompas.com belum lama ini. Mini Cooper 2020 Cooper model standar yang dia punya memang menggunakan mesin 1.500 cc turbo dan tiga silinder. Meski varian paling bawah, tenaganya sudah tembus 134 TK dan torsi di 162 Nm, mumpuni untuk dipakai harian. Alasan Mei memilih Cooper biasa juga karena tampilannya yang masih lucu alias ikonik. Berbeda dengan varian S, JCW yang menurutnya terlalu agresif, terutama akibat tambahan body kit. "Mini yang ini modelnya ikonik, enggak banyak body kit seperti Cooper S atau JCW. Jadi lucunya dapat, kesan Mini-nya masih dapat," kata Mei. Mini Cooper 2020 Memang tampilan soal selera, tapi kalau mau mobil yang masih kelihatan imut, membulat, Cooper biasa bisa jadi pilihan. Ketika dibawa, selain menyenangkan juga punya kabin yang kedap. Padahal model kacanya frameless, tapi masih lebih kedap dibandingkan mobil Jepang di bawah Rp 500 juta. "Masih unggul dari mobil Jepang. Cuma yang enggak biasa, kadang terlalu sunyi malah bikin pusing," kata Mei. Mini Cooper 2020 Kekurangan lainnya yang Mei rasakan ketika membawa Cooper adalah suara ban yang berisik. Modelnya memang run flat tire, dinding ban lebih keras dibandingkan model biasa. "Berisiknya dari suara ban yang run flat tire (RFT). Dia lebih keras dan agak berisik," kata Mei. Minus lainnya yang Mei rasakan adalah mobilnya belum punya passive entry. Jadi kalau mau mengunci mobil atau masuk, harus tekan tombol di remot, tidak ada tombolnya di gagang pintu. "Terus belum ada Apple CarPlay, padahal tahun segitu harusnya sudah masuk. Jadi harus tambah modul lagi aftermarket," kata Mei. Terakhir soal rasa berkendara dari suspensinya yang cukup keras. Bukan itu saja, joknya juga tergolong tidak empuk, kurang cocok untuk orang yang sudah berusia di atas 50 tahun. "Cuma itu yang dicari mungkin ya, karena ketika mengebut, antep sekali, seperti gokart. Sebagian orang tua, yang berumur, saat lewat polisi tidur dan jalan bergelombang jadi terasa agak keras," kata Mei. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang