Mengganti pelek sering jadi pilihan pemilik mobil untuk meningkatkan tampilan kendaraan agar terlihat lebih sporty dan proporsional. Namun, perubahan ukuran tidak boleh hanya mempertimbangkan aspek estetika. Jika tidak dihitung dengan tepat, penggantian pelek justru bisa mengurangi kenyamanan berkendara hingga memengaruhi komponen kaki-kaki. Kumar dari Kickoff Ciputat, toko pelek dan ban mobil di kawasan Cipayung, Ciputat, mengatakan pemilik kendaraan perlu memahami beberapa hal penting sebelum memutuskan mengganti ukuran pelek. “Jangan hanya melihat model atau ukuran yang lebih besar. Yang paling penting adalah perhitungannya tepat supaya mobil tetap nyaman dan aman digunakan,” ujar Kumar kepada Kompas.com, Senin (23/2/2026). Hal utama yang harus diperhatikan adalah menjaga diameter keseluruhan roda atau outer diameter tetap mendekati ukuran standar pabrikan. Diameter ini dihitung dari titik tengah pelek hingga bagian terluar ban. Ukuran pelek memang bisa dinaikkan atau diturunkan, tetapi diameter total ban sebaiknya tidak berubah jauh dari spesifikasi awal. Menurut Kumar, perubahan diameter yang terlalu besar atau kecil dapat menimbulkan berbagai masalah, mulai dari ban berisiko mentok ke spatbor, gangguan pada bearing dan ball joint, hingga penurunan kenyamanan dan stabilitas saat berkendara. Sebagai contoh, ukuran 225/35 R19. Angka 225 menunjukkan lebar ban dalam milimeter, sementara angka 35 merupakan aspect ratio atau tinggi dinding ban sebesar 35 persen dari lebar tersebut. Ilustrasi pelek mobil “Semakin kecil aspect ratio, dinding ban semakin tipis. Biasanya kalau ukuran pelek diperbesar, ban yang digunakan juga lebih tipis. Dampaknya, kemampuan ban dalam meredam getaran ikut berkurang,” kata Kumar. Secara umum, kenaikan ukuran pelek satu hingga dua inci masih tergolong aman selama diameter keseluruhan roda tetap sesuai perhitungan. Namun, patokan tersebut bukan aturan mutlak karena yang paling menentukan adalah kesesuaian ukuran ban dengan pelek dan spesifikasi kendaraan. Selain ukuran, kualitas pelek juga tidak boleh diabaikan. Produk dengan kualitas rendah berisiko mengalami masalah seperti pelek tidak presisi (peyang), material yang lebih rapuh, hingga kebocoran halus atau pinhole. Kebocoran jenis ini membuat tekanan angin berkurang secara perlahan dan sulit dideteksi tanpa pemeriksaan khusus. “Pinhole biasanya tidak terlihat dengan mata. Cara mengeceknya bisa dengan merendam atau menyiram pelek menggunakan air. Kalau ada kebocoran, akan muncul gelembung,” ujarnya. Jadi, supaya tidak salah memilih, Kumar menyarankan pemilik kendaraan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan toko atau bengkel spesialis sebelum membeli. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang