Jelang mudik Lebaran 2026, satu hal yang hampir selalu muncul dalam percakapan calon pemudik adalah soal harga tiket bus AKAP yang mulai merangkak naik. Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Setiap musim Lebaran, permintaan perjalanan melonjak tajam, terutama untuk rute-rute utama dari barat ke timur Pulau Jawa. Namun, Organda menegaskan bahwa kenaikan tarif bus bukan semata karena momentum ramai penumpang. Masyarakat yang hendak berangkat ke kota tujuan di Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur, Jumat (30/12/2022). Plt. Sekretaris Jenderal DPP Organda, Kurnia Lesani Adnan, menjelaskan bahwa kondisi operasional angkutan bus saat Lebaran memang tidak seimbang. “Karena kami ini pada saat Lebaran itu kondisinya timpang. Mudik itu kan dari barat ke timur penuh, timur ke baratnya kosong,” ujar Sani, kepada Kompas.com (27/1/2026). Ketimpangan arus perjalanan itu membuat operator bus menghadapi situasi unik. Kendaraan yang berangkat membawa puluhan penumpang, sering kali harus kembali tanpa muatan. Padahal biaya perjalanan tetap berjalan. Ilustrasi porter di terminal Kampung Rambutan “Jadi cost kami tetap, bahkan nambah, dengan pengeluaran-pengeluaran Lebaran,” kata Sani. Menurutnya, komponen biaya tambahan selama musim mudik menjadi salah satu alasan utama penyesuaian tarif. Operator tetap harus membayar bahan bakar, kru, hingga kebutuhan operasional lain meski perjalanan balik tidak menghasilkan pemasukan yang sama. Kru sebuah bus AKAP menaikkan barang bawaan penumpang ke ruang bagasi di Terminal Bus Patria, Kelurahan Rembang, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Senin (24/3/2025) Dalam hitungan Organda, kenaikan tiket bus AKAP jelang Lebaran umumnya berada di kisaran 40 sampai 50 persen. “Artinya kalau tiket itu di Rp 300.000, mungkin naiknya menjadi sekitar Rp 400.000 hingga Rp 450.000,” ujar dia. Namun, Organda menegaskan bahwa tidak semua rute mengalami kenaikan tinggi. Untuk trayek dengan harga normal yang sudah mahal, kenaikannya justru lebih terbatas. Situasi penumpang yang menunggu keberangkatan bus saat masa liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Terminal Bus Kalideres, Jakarta Barat, Senin (22/12/2025). “Kalau tiket yang memang sudah mahal, misalnya hari biasa Rp 460.000 hingga Rp 500.000, naiknya paling 30–40 persen,” ucap Sani. Bahkan untuk perjalanan jarak jauh, terutama menuju Sumatera, operator bus disebut tidak berani menaikkan tarif terlalu tinggi. Alasannya karena persaingan dengan moda transportasi lain, terutama pesawat. “Kalau yang jarak jauh ke Sumatera enggak berani naik tinggi. Paling Rp 50.000 saja. Pokoknya maksimal di 30 persen. Lebih dari itu orang pilih pesawat,” kata dia. Ilustrasi bus untuk mudik gratis akhir tahun - harga tiket bus Jakarta-Surabaya Dengan tren kenaikan harga yang mulai terasa sejak jauh hari, calon pemudik disarankan untuk merencanakan perjalanan lebih awal, termasuk membeli tiket sebelum memasuki periode puncak arus mudik. Mudik Lebaran 2026 diprediksi kembali menjadi momen tersibuk bagi angkutan darat, dan bus AKAP tetap menjadi pilihan utama bagi banyak masyarakat yang ingin pulang kampung dengan biaya lebih terjangkau. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang