Jalan Tol Cipularang dikenal sebagai salah satu ruas paling rawan kecelakaan, terutama arah menuju Jakarta. Kontur jalan yang didominasi turunan panjang membuat banyak pengemudi kehilangan kendali saat kecepatan meningkat tanpa disadari. Namun, pendiri dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengatakan bukan hanya turunan yang harus diwaspadai. Jumlah Korban Kecelakaan Beruntun Tol Cipularang: Tanjakan juga berpotensi menjadi black spot atau titik rawan kecelakaan bila tidak diantisipasi dengan benar. “Tidak saja menurun, kadang-kadang tanjakan juga menjadi black spot karena mobil hilang kekuatan, mobil harus mengoper (gigi)," kata Jusri kepada Kompas.com, Rabu (3/12/2025). "Sehingga biasanya kalau elevasi yang tanjakan itu, operator jalan melebarkan jalannya, ruas jalannya dilebarkan, sehingga untuk kendaraan-kendaraan angkutan barang bisa menggunakan lajur paling kiri untuk merayap, tidak bertahan di lajur-lajur yang di tengah,” katanya. Jusri menjelaskan, pada beberapa titik tanjakan, pengelola jalan tol biasanya menambah lebar jalur kiri untuk memberi ruang khusus bagi kendaraan besar seperti truk atau bus. Ilustrasi fitur Street View untuk titik Lokasi Rawan Kecelakaan di tol Cipularang Km 92 di Google Maps. Ruang tambahan tersebut memungkinkan kendaraan yang sedang kehilangan momentum untuk tetap bergerak aman tanpa mengganggu arus lalu lintas utama. Namun, persoalannya muncul saat kedisiplinan pengemudi angkutan barang rendah dan tidak mematuhi penggunaan lajur. Di mana truk dan bus yang berjalan lambat berada di jalur cepat. “Ini bahaya. Mereka sudah tahu itu, cuma kadang-kadang kedisiplinan pengemudi angkutan itu tetap berada di jalur normal yang seharusnya jalur lambat. Mereka seharusnya di jalur paling lambat, kiri, tapi di lajur cepat,” katanya. KM 107 Tol Cipularang yang bakal dibangun simpang susun untuk gerbang tol di Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Kondisi ini membuat kendaraan lain, terutama mobil bermesin kecil, kesulitan mengambil ancang-ancang untuk menambah tenaga sebelum tanjakan. Akibatnya, laju kendaraan terhambat bahkan bisa macet ke belakang dan risiko kecelakaan meningkat. “Sehingga kendaraan yang sedang mengisi tenaga untuk akselerasi, untuk mendapatkan torsi dalam melalui lintasan tanjakan tadi, terhambat gara-gara kecepatan kendaraan angkutan tadi yang lebih lambat," katanya. "Kecepatannya jadinya terlalu lambat, karena tidak disiplinnya pengemudi angkutan umum, angkutan barang,” ujar Jusri. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang