Dokter dan pegiat media media sosial, Tirta Mandira Hudhi, kembali menyoroti persoalan emosi di jalan raya. Melalui unggahan media sosialnya, dr Tirta menjelaskan, respons berlebihan terhadap situasi lalu lintas justru berisiko membahayakan keselamatan semua pihak. Ia mengaku pernah mengalami berbagai situasi tidak menyenangkan di jalan, mulai dari diklakson berkali-kali hingga perebutan jalur secara mendadak, terutama di area gerbang tol. Namun, menurutnya reaksi balik bukanlah solusi. “Pernah saya diklakson berkali-kali. Saya enggak respons balik. Jalur direbut dadakan di gerbang tol. Klakson dua kali, habis itu ya sudah,” kata dr Tirta mengeonfrimasi kepada Kompas.com, Kamis (22/1/2026). Dalam pengalaman lain, dr Tirta juga sempat berhadapan dengan kendaraan besar yang mengambil jalur dari arah berlawanan. Kondisi tersebut nyaris berujung fatal lantaran kedua pihak sama-sama tidak mau mengalah. Kepadatan lalu lintas di depan Gerbang Tol Lenteng Agung 2 “Saya pernah dipepet bus lawan arah dan benar-benar itu saya nyaris enggak ngalah. Busnya juga nekat sampai akhirnya saya yang minggir dadakan. Itu cukup memorable,” ujarnya. Dari pengalaman tersebut, dr Tirta menyimpulkan, keselamatan harus menjadi prioritas utama dibanding meluapkan emosi di jalan. “Jadinya fokusnya keselamatan masing-masing saja,” ujarnya. Mengalah Pandangan serupa juga disampaikan praktisi keselamatan berkendara di Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana. Ia mengingatkan bahwa tujuan utama mengemudi adalah mencapai tempat tujuan dengan selamat, bukan memenangkan ego di jalan. Posisi mengemudi Wuling Cortez Darion PHEV dirasa cukup ergonomis “Pahami dulu tujuan mengemudi itu apa. Mengemudi adalah bergerak dari satu titik keberangkatan sampai ketibaan dengan selamat. Jangan sampai gagal fokus dengan hal-hal yang tidak sesuai,” kata Sony. Ia menambahkan, selama perjalanan pengendara akan bertemu dengan beragam karakter pengguna jalan yang membawa masalah masing-masing, yang kerap diluapkan secara ekstrem saat berkendara. “Biasanya mereka mengekspresikan masalahnya di jalan, seperti curhat tapi ekstrem, misalnya ugal-ugalan atau grasak-grusuk. Pengemudi lain jangan mau jadi tempat curhatan masalah mereka,” ujarnya. Menurut Sony, sikap paling aman adalah mengalah dan menjaga jarak. Pantauan lalu lintas di atas Halte Transjakarta Senayan Bank Jakarta jelang konser grup musik perempuan asal Korea Selatan BLACKPINK, Jakarta, Sabtu (1/11/2025). “Lebih baik mengalah, menjauh, dan menghindar demi keselamatan. Itu yang namanya defensive driving,” kata Sony. Pesan tersebut relevan di tengah maraknya kasus kekerasan di jalan raya, salah satunya insiden pengemudi BYD Atto 1 yang melakukan pemukulan terhadap pengendara lain di Tol Kebon Jeruk arah Gading Serpong, setelah terlibat cekcok akibat klakson panjang saat perpindahan lajur. Dalam kejadian itu, pengemudi BYD Atto 1 disebut tidak terima ditegur usai memotong lajur tanpa memberi isyarat sein. Aksi pemukulan menyebabkan korban mengalami luka sobek di bibir dan berujung pada laporan ke pihak kepolisian. Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa konflik kecil di jalan dapat berkembang menjadi tindak kekerasan ketika emosi tidak terkendali. Sejalan dengan pesan dr Tirta dan pandangan Sony Susmana, sikap mengalah dan mengutamakan keselamatan dinilai jauh lebih penting daripada mempertahankan ego saat berkendara. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang