Berkendara sambil merokok sering kali menjadi sorotan oleh banyak pengguna jalan lain yang tidak merokok dan juga yang merokok. Pasalnya, kebiasaan tersebut sangat membahayakan keselamatan. Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), mengatakan, banyak sekali sekarang pengendara motor yang berkendara sambil merokok ketika tidak bisa melepaskan kebiasaan tersebut. Ilustrasi merokok sambil berkendara "Ini sangat membahayakan dan melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ). Ancaman hukumannya kalau tidak salah denda Rp 750.000," ujar Sony, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Sony menambahkan, kebiasaan berkendara sambil merokok sangat membahayakan. Sebab, abu yang beterbangan dari rokok tersebut bisa mengenai mata pengendara lain. Hindari Operasi Zebra, Pemotor Hingga Truk Pilih Ngetem di Jalan Sampai Polisi Bubar *** Local Caption *** Hindari Operasi Zebra, Pemotor Hingga Truk Pilih Ngetem di Jalan Sampai Polisi Bubar "Bahkan, ketika dia berkendara, pasti pegang setang sambil pegang rokoknya, itu sangat berbahaya sekali. Ini sangat mengganggu keseimbangan dan konsentrasi," kata Sony. Belum lama ini, Mahkamah Konstitusi (MK) diminta menambah sanksi yang lebih berat bagi orang yang mengemudi sambil merokok. Sanksinya mulai kerja sosial hingga Surat Izin Mengemudi (SIM) dicabut. Namun, menurut Sony, akan lebih jera jika langsung dikenakan denda sebesar Rp 750.000 atau motornya ditahan jika tidak bisa membayar. Sebab, jika cabut SIM, tidak semua pengendara memiliki SIM. "Menurut data yang saya dapat tahun 2024, bukan 2025 ya, bahwa pengendara yang ada di jalan raya, terutama motor, itu yang punya SIM paling cuma 20 persen, sisanya 80 persen tidak punya SIM," ujarnya. "Memang yang paling ideal adalah mereka dikenakan denda tilang di tempat Rp 750.000. Kalau itu tidak dibayar, artinya motornya harus ditangkap, disita, sampai denda ini benar-benar dibayar. Nah, itu efek jera. Tapi, kalau sanksi sosial atau cabut SIM, menurut saya tidak efektif," kata Sony. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang