Pengemudi di jalan tol saat arus balik Lebaran diimbau tidak sering berpindah-pindah lajur ketika kondisi lalu lintas sedang padat. Kebiasaan ini kerap dianggap bisa mempercepat perjalanan, padahal justru sebaliknya. Training Director The Real Driving Center Marcell Kurniawan mengatakan, berpindah lajur saat macet hanya akan memperparah kepadatan lalu lintas. Puncak Arus Mudik, 42.000 Kendaraan Menuju Malang Melintasi GT Kejapanan Utama Lampaui Proyeksi “Lebih baik tidak berpindah-pindah lajur saat macet, karena malah akan menambah kemacetan,” kata Marcell kepada Kompas.com, Senin (23/3/2026). Menurut dia, perpindahan lajur yang terlalu sering membuat aliran kendaraan menjadi tidak stabil. Akibatnya, laju kendaraan di tiap jalur justru semakin melambat. Selain itu, kebiasaan ini juga berpotensi memicu emosi pengguna jalan lain. Apalagi jika ada pengemudi yang merasa dipotong atau tidak diberi kesempatan untuk masuk ke jalurnya. “Bisa saja ada pengguna jalan yang tidak kasih jalan dan bisa menyebabkan road rage,” ujar Marcell. Kondisi psikologis orang yang sedang di jalan cenderung sulit ditebak. Daripada berpotensi menyebabkan cekcok di jalan, sebaiknya tidak sering pindah lajur saat sedang macet. Karena itu, pengemudi disarankan tetap berada di lajurnya dan menjaga jarak aman. Dengan aliran yang lebih tertib, kemacetan bisa lebih cepat terurai dan risiko konflik di jalan dapat diminimalkan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang