Kemacetan lalu lintas sudah menjadi kondisi yang sering terjadi dalam aktivitas berkendara sehari-hari, terutama di ruas jalan padat seperti jalan tol dan jalur arteri utama. Kondisi lalu lintas yang padat dengan pola berhenti dan jalan perlahan, membuat mobil bekerja lebih keras dari biasanya. Jika terjadi terus-menerus tanpa perawatan yang tepat, kebiasaan sering terjebak macet bisa mempercepat penurunan performa hingga memicu kerusakan pada sejumlah bagian penting kendaraan. Lung Lung, pemilik Dokter Mobil mengatakan, kondisi macet yang membuat mesin menyala dalam waktu lama tanpa bergerak dapat memicu efek negatif pada sistem kendaraan. Arus lalu lintas di Km 46 ruas jalan tol Jakarta - Cikampek, Kamis (19/3/2026) pukul 06.30 WIB. “Suhu kerja mesin jadi tinggi, konsumsi bahan bakar boros, oli lebih cepat kotor, dan komponen pendingin seperti radiator bekerja ekstra keras. Kalau terjadi terus-menerus, umur mesin bisa berkurang,” kata Lung Lung kepada Kompas.com, belum lama ini. Selain itu, kemacetan kronis juga membuat sistem rem lebih sering digunakan, sehingga kampas akan mengalami keausan lebih cepat. Beban kerja AC meningkat karena harus menjaga suhu kabin tetap nyaman meski kendaraan tidak bergerak, yang pada akhirnya dapat mengurangi umur kompresor. Lung Lung menambahkan, polusi yang lebih tinggi saat macet juga berpengaruh pada filter kabin dan saluran udara mobil. “Filter bisa cepat kotor karena banyak mengisap debu dan partikel polutan, sehingga sirkulasi udara di dalam mobil jadi kurang sehat,” ujarnya. Jika dibiarkan tanpa perawatan yang tepat, efek dari kebiasaan terjebak macet ini bukan hanya menurunkan performa, tetapi juga berpotensi memicu kerusakan komponen dengan biaya perbaikan yang jauh lebih besar. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang