Kebijakan rekayasa lalu lintas saat arus mudik dan balik Lebaran kerap jadi pisau bermata dua. Di satu sisi, tujuannya mengurai kepadatan. Di sisi lain, angkutan massal justru terdampak. Plt. Sekretaris Jenderal DPP Organda, Kurnia Lesani Adnan, menilai keterlambatan bus AKAP sering kali dipicu oleh kebijakan one way atau penghentian arus tertentu di jalan tol. Menurutnya, operasional bus sangat bergantung pada kondisi lalu lintas, terutama di ruas tol. Ketika satu arah dihentikan atau dialihkan, arus sebaliknya ikut terganggu. Pemberlakuan one way nasional diberlakukan dengan Flag off oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Kakorlantas Polri Agus Suryonugroho, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kemenko PMK Warsito, Direktur Utama Jasa Marga Subakti Syukur yang didampingi Direktur Bisnis Jasa Marga Reza Febriano, serta para pejabat lainnya. Dampaknya, bus yang seharusnya kembali untuk menjemput penumpang berikutnya menjadi terlambat. “Jadi kan memang kita ini sangat bergantung dengan arus jalan. Nah, apabila ada penyetopan atau penghambatan searah, sehingga yang arus baliknya terganggu,” ujar Sani, kepada Kompas.com, dikutip Kamis (19/2/2026). Sani menegaskan, angkutan umum seharusnya mendapat prioritas karena membawa penumpang dalam jumlah besar. Pemudik mulai memasuki bus AKAP di Terminal Pondok Pinang, Jumat (28/03/2025). Ia menyebut kepentingan puluhan orang di dalam satu bus mestinya lebih diutamakan dibanding kendaraan pribadi. Ia mengingatkan pengalaman pada 2021 atau 2022 ketika keterlambatan bus bahkan sampai melewati pergantian hari. Kondisi itu disebutnya sebagai skenario terburuk yang memicu banyak keluhan penumpang. Karena itu, ia mengusulkan agar kebijakan one way nasional tidak diterapkan secara menyeluruh. Situasi Terminal Pulogebang yang masih diramaikan dengan penumpang yang hendak mudik ke kampung halaman, Jumat (27/12/2024). “Mungkin (one way) sepenggal itu lebih baik,” kata Sani. Kurnia juga menyoroti praktik pengalihan bus ke jalan nasional saat tol padat, sementara kendaraan pribadi tetap melintas di tol. Padahal, menurutnya, jalan tol dirancang sebagai jalur bebas hambatan yang lebih cepat dan efisien. Ia berharap ke depan manajemen lalu lintas saat mudik benar-benar menempatkan angkutan massal sebagai prioritas, bukan sekadar bagian dari arus yang dihentikan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang