Banjir yang belakangan kembali melanda sejumlah wilayah, termasuk area pesisir Jakarta Utara akibat rob, membuat banyak kendaraan terjebak dalam genangan. Kondisi ini kerap menimbulkan kerusakan serius pada mobil, terutama ketika mesin terendam air. Namun, tingkat kerusakannya bisa sangat berbeda, tergantung apakah mobil terendam dalam keadaan mati atau justru sedang menyala. Menurut Lung Lung, pemilik Dokter Mobil, mobil yang terendam dalam kondisi mati umumnya mengalami kerusakan pada sistem kelistrikan dan beberapa komponen elektrik lainnya. “Kalau mobilnya dalam keadaan mati mungkin bisa sampai Rp 30 juta–Rp 50 juta,” ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (4/12/2025). Ia menjelaskan, dalam kondisi mesin mati, air biasanya menyerang komponen-komponen seperti wiring harness, ECU, modul sensor, hingga bagian interior seperti karpet dan peredam. Meski biaya perbaikannya besar, kerusakan ini masih tergolong dapat dipulihkan tanpa harus melakukan overhaul mesin secara menyeluruh. Berbeda ketika mobil terendam saat mesin masih menyala. Blok mesin mobil pecah lantaran water hammer Menurut Lung Lung, skenario ini jauh lebih berbahaya karena berpotensi menyebabkan water hammer, yaitu kondisi ketika air masuk ke ruang bakar dan membuat piston tidak bisa bergerak. “Kalau pas nyala kebanjiran sampai water hammer, kerusakannya bisa lebih parah lagi,” katanya. Water hammer dapat merusak komponen inti mesin seperti connecting rod, piston, hingga blok mesin. Dalam banyak kasus, kata Lung Lung, mobil yang mengalami water hammer harus menjalani turun mesin total, bahkan kadang lebih ekonomis jika mesin diganti dibanding diperbaiki satu per satu. Selain risiko water hammer, mobil yang menyala saat menerjang banjir juga berpotensi mengalami kerusakan pada sistem asupan udara, turbocharger (jika ada), serta transmisi. Arus air yang masuk ketika putaran mesin sedang aktif membuat kerusakan jauh lebih cepat dan destruktif. Karena itu, Lung Lung menekankan pentingnya tidak memaksakan mobil melewati banjir, apalagi ketika genangan sudah melebihi setengah ban. Warga mengevakuasi kendaraannya yang tertimbun lumpur di depan rumahnya pascabanjir bandang di Desa Manyang Cut, Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis (27/11/2025). Gubernur Aceh Muzakir Manaf menetapkan status darurat bencana hidrometerologi setelah 16 kabupaten/kota di Aceh dilanda banjir hingga longsor, terhitung 28 November hingga 11 Desember 2025. Ia mengingatkan bahwa biaya perbaikan akibat kesalahan mengambil keputusan di jalan dapat menyamai bahkan melampaui nilai mobil itu sendiri. Dengan curah hujan tinggi dan banjir rob yang diperkirakan masih terjadi di Jakarta Utara dalam beberapa waktu ke depan, para pemilik mobil diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Mematikan mesin sebelum air mencapai area saringan udara dan menghindari genangan dalam menjadi langkah paling sederhana untuk mencegah kerusakan besar. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang