Penggunaan bensin beroktan rendah pada mobil modern masih kerap dipilih sebagian pemilik kendaraan dengan alasan efisiensi biaya. Namun di balik itu, ada konsekuensi yang tidak bisa diabaikan, terutama bagi mobil modern yang dirancang bekerja dengan bahan bakar berkualitas lebih tinggi. Muchlis, pemilik bengkel Spesialis Toyota Mitsubishi, Garasi Auto Service mengatakan ada beberapa dampak yang bisa terjadi bila mobil berstandar Euro 4 pakai bensin kualitas rendah. “Mesin mobil modern memiliki rasio kompresi tinggi, idealnya menggunakan bensin beroktan tinggi atau sejenis Pertamax Turbo (RON 98). Jika menggunakan Pertalite (RON 90), proses pembakaran bisa kurang optimal sehingga performa mesin menurun,” ucap Muchlis kepada Kompas.com, belum lama ini. Ilustrasi mengisi bensin mobil. Ramai soal isi bensin dengan pintu mobil terbuka menyebabkan kebakaran. Ilustrasi menggoyang-goyang kendaraan saat isi bensin. Penggunaan bahan bakar dengan oktan lebih rendah dari rekomendasi pabrikan dapat memicu gejala knocking atau ngelitik. Knocking terjadi ketika bahan bakar terbakar lebih dini daripada percikan bunga api. Padahal sistem pada mesin menghendaki proses pembakaran terjadi setelah busi memercikkan bunga api pada masing-masing silinder. Dampaknya, piston mengalami benturan dan timbul suara ngelitik. “Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan mesin dalam jangka panjang, seperti piston cepat haus dan selama pemakaian mobil menjadi kurang bertenaga,” ucap Muchlis. Selain itu, konsumsi bahan bakar juga berpotensi menjadi lebih boros. Mesin yang tidak bekerja pada kondisi optimal biasanya membutuhkan injakan pedal gas lebih dalam untuk menghasilkan tenaga yang sama. Tidak hanya berdampak pada konsumsi BBM, respons akselerasi mobil juga dapat terasa lebih lambat. Hal ini terjadi karena sistem manajemen mesin akan menyesuaikan timing pengapian guna menghindari knocking saat menggunakan bensin beroktan rendah. “Untuk jangka panjangnya, pakai Pertalite sebenarnya lebih berisiko karena beberapa komponen seperti injektor, pompa bensin dan sejenisnya bakal lebih cepat rusak, karena kotoran yang terkandung di BBM,” ucap Muchlis. Mesin modern yang dilengkapi teknologi seperti turbocharger atau direct injection juga cenderung lebih sensitif terhadap kualitas bahan bakar. Jika menggunakan BBM yang tidak sesuai spesifikasi, kinerja teknologi tersebut tidak akan optimal. Dari sisi perawatan, penggunaan BBM yang tidak sesuai rekomendasi dapat mempercepat penurunan performa mesin. Salah satu penyebabnya adalah penumpukan karbon di ruang bakar akibat proses pembakaran yang tidak sempurna. “Pembakaran yang kurang sempurna dapat meninggalkan residu karbon pada piston, katup, atau ruang bakar, ini lebih cepat terjadi daripada mobil pakai BBM berkualitas,” ucap Muchlis. Meski mobil modern sudah dilengkapi knock sensor untuk menjaga mesin tetap aman, penyesuaian tersebut justru membuat performa dan efisiensi tidak berada pada kondisi terbaik. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang