Menggunakan Pertalite untuk mudik dengan mobil modern sebenarnya masih bisa dilakukan, tetapi ada beberapa potensi kerugian. Terutama jika mobil tersebut dirancang untuk menggunakan bensin dengan angka oktan lebih tinggi seperti Pertamax atau lebih. Kebanyakan mobil modern sudah dibekali teknologi yang memenuhi standar emisi Euro 4 atau lebih. Sehingga membutuhkan BBM yang berkualitas untuk mendukung tercapainya emisi dan keawetan komponen. Muchlis, pemilik bengkel Spesialis Toyota Mitsubishi, Garasi Auto Service Sukoharjo mengatakan ada beberapa dampak yang bisa terjadi bila mobil berstandar Euro 4 pakai bensin kualitas rendah. “Mesin mobil modern memiliki rasio kompresi tinggi, idealnya menggunakan bensin beroktan tinggi atau sejenis Pertamax Turbo (RON 98). Jika menggunakan Pertalite (RON 90), proses pembakaran bisa kurang optimal sehingga performa mesin menurun,” ucap Muchlis kepada KOMPAS.com, Sabtu (7/3/2026). Penggunaan bahan bakar dengan oktan lebih rendah dari rekomendasi pabrikan dapat memicu gejala knocking atau ngelitik. Knocking terjadi ketika bahan bakar terbakar lebih dini daripada percikan bunga api. Padahal sistem pada mesin menghendaki proses pembakaran terjadi setelah busi memercikkan bunga api pada masing-masing silinder. Dampaknya, piston mengalami benturan dan timbul suara ngelitik. “Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan mesin dalam jangka panjang, seperti piston cepat haus dan selama pemakaian mobil menjadi kurang bertenaga,” ucap Muchlis. Konsumsi bahan bakar bisa menjadi lebih boros. Jasa Marga gratiskan 6 ruas tol selama periode mudik Lebaran 2026 Mesin yang tidak bekerja pada kondisi optimal sering kali membutuhkan injakan pedal gas lebih dalam untuk menghasilkan tenaga yang sama. “Penggunaan bahan bakar meningkat selama perjalanan mudik. Padahal, niat awal pakai Pertalite mungkin biar lebih irit, tapi bisa saja di layar MID konsumsi BBM rata-rata bisa lebih boros,” ucap Muchlis. Tidak hanya berdampak pada konsumsi BBM, respons akselerasi mobil juga dapat terasa lebih lambat. Hal ini karena sistem manajemen mesin akan menyesuaikan timing pengapian untuk menghindari knocking saat menggunakan bensin dengan oktan lebih rendah. “Untuk jangka panjangnya, pakai Pertalite sebenarnya lebih berisiko karena beberapa komponen seperti injektor, pompa bensin dan sejenisnya bakal lebih cepat rusak, karena kotoran yang terkandung di BBM,” ucap Muchlis. Ilustrasi perjalanan mudik Mesin modern yang menggunakan teknologi seperti turbocharger atau direct injection cenderung lebih sensitif terhadap kualitas bahan bakar. Penggunaan bensin yang tidak sesuai spesifikasi bisa membuat kinerja teknologi tersebut tidak optimal. Dari segi perawatan, mobil yang pakai BBM tidak sesuai rekomendasi dapat mengalami penurunan performa lebih cepat. Konsekuensinya harus melakukan perawatan lebih intensif karena terjadi penumpukan karbon di ruang bakar. “Pembakaran yang kurang sempurna dapat meninggalkan residu karbon pada piston, katup, atau ruang bakar, ini lebih cepat terjadi daripada mobil pakai BBM berkualitas,” ucap Muchlis. Knock sensor terdapat di mobil modern, perannya membantu menyesuaikan pengapian agar mesin tetap aman. Namun penyesuaian ini justru membuat performa dan efisiensi tidak optimal. Maka dari itu, jika mobil direkomendasikan menggunakan bensin beroktan tinggi, sebaiknya tetap mengikuti spesifikasi pabrikan. Selain menjaga performa mesin tetap optimal, hal ini juga membantu menjaga efisiensi bahan bakar selama perjalanan mudik yang jaraknya cukup jauh dan menjaga keawetan komponen. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang