- Sampai saat ini bahan bakar jenis Pertalite dan Pertamax masih jadi pilihan utama masyarakat untuk mengisi bensin kendaraan. Meski sama-sama bensin, keduanya punya perbedaan spesifikasi serta harga yang cukup signifikan. Per Maret 2026, harga Pertamax terpantau sekitar Rp 12.350 per liter dengan nilai oktan atau RON 92 serta kandungan sulfur di bawah 400 ppm. Sementara itu, Pertalite dijual dengan harga Rp 10.000 per liter dengan RON 90 dan kadar sulfur di bawah 500 ppm. Menurut Muchlis, pemilik bengkel spesialis Toyota dan Mitsubishi di Garasi Auto Service, masyarakat sebenarnya bisa membandingkan sendiri efisiensi kedua bahan bakar tersebut dengan mencobanya langsung pada kendaraan. Ia menjelaskan bahwa secara teknis, mobil-mobil modern umumnya direkomendasikan menggunakan bahan bakar dengan nilai oktan minimal RON 91. Semakin tinggi angka oktan, biasanya semakin baik untuk performa mesin, seperti pada Pertamax Turbo yang memiliki RON 98. Muchlis menambahkan, penggunaan bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi mesin dapat memengaruhi efisiensi konsumsi BBM. Hal ini karena mesin modern biasanya memiliki rasio kompresi yang lebih tinggi dan dirancang untuk bekerja optimal dengan bahan bakar beroktan lebih tinggi. Sementara itu, Pertalite yang memiliki RON 90 berada di bawah rekomendasi untuk mobil dengan standar emisi Euro 4 atau yang lebih baru. Penggunaan BBM dengan oktan lebih rendah berpotensi menurunkan performa mesin. Melansir Kompas.com, ia juga menjelaskan kalau mesin dengan kompresi tinggi butuh bahan bakar beroktan lebih tinggi untuk mencegah terjadinya knocking atau gejala “ngelitik”. Jika BBM yang digunakan tidak sesuai spesifikasi, tenaga mesin bisa menurun dan jarak tempuh kendaraan per liter bahan bakar menjadi lebih pendek. Perbedaan konsumsi BBM biasanya juga bisa terlihat dari informasi yang ditampilkan pada layar MID (Multi Information Display) kendaraan. Mobil yang menggunakan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan umumnya menunjukkan konsumsi bahan bakar yang lebih efisien. Selain soal efisiensi, penggunaan Pertalite secara terus-menerus pada mobil modern juga dapat menimbulkan dampak jangka panjang. Salah satunya adalah potensi munculnya knocking yang dapat mempercepat keausan pada komponen piston. Tidak hanya itu, kualitas bahan bakar yang lebih rendah juga dapat memengaruhi komponen sistem bahan bakar seperti pompa bensin dan injektor. Dalam jangka panjang, kotoran yang terbawa bahan bakar bisa menyebabkan penyumbatan pada komponen tersebut. Karena itu, meskipun Pertalite terlihat lebih murah dari sisi harga per liter, penggunaan BBM dengan oktan lebih rendah berpotensi membuat konsumsi bahan bakar lebih boros serta meningkatkan kebutuhan perawatan kendaraan agar performanya tetap optimal.