Pergeseran penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi ke Pertalite kian marak dilakukan para pengguna motor. Alasan efisiensi pengeluaran harian kerap membuat pemilik motor terpaksa mengisi BBM beroktan lebih rendah dari rekomendasi pabrikan. Meski penggunaan BBM yang sesuai rekomendasi tetap menjadi opsi terbaik, ada beberapa langkah antisipasi yang wajib dilakukan pemilik motor jika tetap ingin atau terpaksa menggunakan Pertalite. Perhatikan Rasio Kompresi Mesin Motor Sebelum menentukan jenis BBM, penting bagi pemilik kendaraan untuk mengetahui spesifikasi rasio kompresi mesin pada sepeda motor masing-masing. Sebab, tidak semua motor akan berdampak buruk secara signifikan saat diisi Pertalite. Bengkel Sepeda Motor Sam Dadi Jaya Motor di Kota Malang, Jawa Timur. Technical & Service Education PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) Ferry Nurul Fajar, menjelaskan bahwa batas toleransi pengoperasian motor dengan Pertalite berkaitan erat dengan besaran rasio kompresinya. "Untuk kompresi di atas 10 sampai 11 tapi ya. Kalau di bawah itu harusnya aman pakai Pertalite," kata Ferry kepada Kompas.com, Kamis (23/7/2026). Artinya, untuk motor-motor matik, dan bebek lawas yang memiliki rasio kompresi mesin di bawah 10:1, penggunaan Pertalite tergolong masih terakomodasi dengan baik oleh spesifikasi mesin tanpa memicu penumpukan karbon berlebih. Solusi Rutin: Pakai Carbon Cleaner Tiap 3.000 Km Lantas, bagaimana dengan motor-motor modern yang sudah mengusung rasio kompresi di atas 10:1 hingga 11:1 ke atas? Ferry menegaskan, jika pemilik motor tetap bersikeras menggunakan Pertalite pada unit bermesin kompresi tinggi, perawatan ekstra wajib dilakukan secara konsisten demi mencegah tumpukan kerak karbon sisa pembakaran yang tidak sempurna. "Kalau mau tetap pakai Pertalite, ya harus rajin pakai carbon cleaner tiap 3.000 km," ujar Ferry. Penggunaan cairan pembersih karbon (carbon cleaner) secara rutin saat servis berkala dapat membantu meluruhkan sisa-sisa deposit karbon di dalam ruang bakar, katup, hingga injektor sebelum mengerak tebal. Langkah pencegahan murah ini sangat disarankan daripada harus menanggung risiko ruang bakar yang dipenuhi kerak padat, yang pada akhirnya memicu kebocoran kompresi hingga keharusan melakukan proses overhaul atau turun mesin.