Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat sebagian pemilik kendaraan mulai mengubah kebiasaan saat mengisi bahan bakar. Tidak sedikit pengguna mobil maupun sepeda motor yang sebelumnya rutin menggunakan Pertamax kini beralih ke Pertalite demi menekan biaya operasional. Namun, apakah kebiasaan tersebut aman bagi mesin, terutama jika kendaraan sebenarnya direkomendasikan menggunakan BBM dengan nilai oktan (RON) lebih tinggi? Supriyono, Kepala Bengkel Yamaha Panggung Motor Solo, mengatakan perbedaan nilai oktan atau Research Octane Number (RON) menjadi alasan utama mengapa pencampuran bahan bakar minyak (BBM) sebaiknya dihindari. "Kalau bisa dihindari, tapi kalau memang darurat sesekali masih aman. Karena nilai RON sudah berbeda, tentu ada efeknya kalau keseringan campur atau gonta-ganti BBM," kata Supriyono saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Sejumlah pengendara sepeda motor mengantre untuk mengisi Bahan Bakar Minyak di SPBU 34.15420, Jalan Benda Raya, Pamulang, Tangerang Selatan, Kamis (25/6/2026) Sebagai informasi, Pertalite memiliki nilai oktan (RON) 90, sedangkan Pertamax dan Pertamax Turbo masing-masing memiliki RON 92 dan RON 98. Perbedaan angka oktan tersebut memengaruhi proses pembakaran di dalam mesin, terutama pada kendaraan dengan rasio kompresi yang membutuhkan BBM beroktan lebih tinggi. Menurut Supriyono, jika pencampuran BBM dilakukan terlalu sering, performa mesin dapat menurun. Bahkan, dalam beberapa kasus pengendara bisa merasakan suara mesin menjadi lebih kasar atau muncul bunyi "ngelitik" (knocking). "Biasanya performa juga kurang bagus, bahkan kadang timbul suara kasar atau ngelitik," katanya. Fenomena knocking terjadi akibat pembakaran yang tidak sempurna di ruang bakar. Jika terus dibiarkan dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menimbulkan penumpukan kerak hingga merusak komponen mesin. Situasi antren Pertalite SPBU kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (25/6/2026). Victor Assani, 2W Service Head PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), mengatakan penggunaan BBM dengan RON yang lebih rendah dalam jangka pendek dapat kita rasakan langsung pada kinerjanya. “Tenaga pada kendaraan akan terasa tidak pada performa terbaiknya seperti pada akselerasi dan power, atau kadang kita merasakan getaran yang tidak sewajarnya pada kemudi,” kata Victor. Ia menjelaskan, kondisi tersebut terjadi karena kendaraan modern telah dilengkapi sistem cerdas yang mampu mendeteksi penggunaan BBM dengan nilai RON yang tidak sesuai. Untuk mencegah kerusakan pada mesin, sistem kemudian menyesuaikan waktu pengapian sehingga berdampak pada penurunan performa kendaraan. “Ini yang mengakibatkan kondisi yang tadi disebutkan di atas muncul, termasuk merembet ke konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi,” ucapnya. Karena itu, pengendara disarankan menggunakan BBM sesuai rekomendasi pabrikan agar performa dan usia mesin tetap terjaga. Meski begitu, dalam kondisi darurat, pencampuran BBM masih dapat ditoleransi selama tidak dilakukan secara rutin atau menjadi kebiasaan.