Masih banyak pemilik motor lawas beranggapan bahwa menggunakan bahan bakar beroktan tinggi seperti Pertamax (RON 92) akan membuat performa mesin menjadi lebih baik. Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar. Pada motor keluaran tahun 2000 ke bawah yang umumnya memiliki rasio kompresi lebih rendah, penggunaan BBM beroktan tinggi justru bisa memunculkan masalah jika tidak diimbangi dengan penyesuaian komponen pendukung. Endro Sutarno, People & Technical Development SiTEPAT, mengatakan, karakter mesin dan spesifikasi busi harus menjadi pertimbangan sebelum memutuskan menggunakan bahan bakar dengan angka oktan lebih tinggi. "Kalau umpama motor-motor yang mungkin kompresinya lebih rendah, kalau dia menggunakan bahan bakarnya yang RON-nya tinggi, harus diperhatikan lagi businya, menggunakan busi dingin atau busi panas," kata Endro, kepada Kompas.com (13/7/2026). Restorasi motor bebek Honda Astrea Grand Belum Tentu Mesin Lebih Enak Endro menjelaskan, banyak motor lawas dengan rasio kompresi rendah masih menggunakan busi panas. Jenis busi ini memiliki karakteristik menyimpan panas lebih lama di ruang bakar. Di sisi lain, bahan bakar beroktan tinggi memiliki karakteristik pembakaran yang berbeda. Apabila dipadukan dengan busi yang kurang sesuai, pembakaran bisa terjadi sebelum waktu yang seharusnya. Sejumlah pembalap memacu kecepatan motornya dalam pehelatan Nostalgia Balapan di kawasan Pasar Seni, Taman Impian Jaya Ancol, Sabtu (19/3/2022). Perhelatan tersebut mengusung konsep Fun Race Series yang merupakan ajang balap sepeda motor dengan menggunakan motor klasik produksi mulai dari tahun 1940 sampai tahun 1980. "Kalau pakainya bahan bakarnya RON-nya tinggi, sedangkan businya masih menyimpan panas, belum waktunya terjadi timing pembakaran, bahan bakarnya sudah terbakar duluan. Nah, malah ngelitik, malah enggak ada tenaga," ujar Endro. Karena itu, ia mengingatkan pemilik motor lawas agar tidak langsung berasumsi bahwa mengganti Pertalite ke Pertamax otomatis membuat performa mesin meningkat. "Jadi enggak serta-merta, 'Oh, ganti saja motor lama pakai Pertamax, ternyata bagus.' Kalau businya masih pakai busi panas, ya malah bisa ngelitik," kata Endro. Ilustrasi busi motor. Penggunaan Busi Harus Ikut Disesuaikan Menurut Endro, apabila pemilik motor lawas ingin menggunakan BBM dengan angka oktan lebih tinggi, sebaiknya spesifikasi busi juga disesuaikan. Pemilihan busi yang tepat akan membantu menghasilkan proses pembakaran yang sesuai dengan karakter bahan bakar sehingga performa mesin tetap optimal. "Sebenarnya kalau mau pemakaian seperti itu, kita harus sesuaikan juga businya. Karena pengaruh busi itu sangat berpengaruh ke pembakaran nantinya. Bahan bakarnya bagus, businya enggak tepat ya enggak bisa lari," ujarnya. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax membuat stok BBM subsidi di sejumlah SPBU wilayah Kota Tangerang ludes lebih cepat dari biasanya. Ia menambahkan, penggunaan busi yang lebih dingin umumnya lebih sesuai jika mesin akan menggunakan bahan bakar beroktan lebih tinggi. "Biasanya kalau busi-busi dingin itu tingkat businya nomornya lebih besar," kata Endro. Dengan demikian, penggunaan BBM RON 92 atau Pertamax pada motor lawas bukan berarti dilarang. Namun, pemilik perlu memastikan spesifikasi mesin dan komponen pendukung, terutama busi, sudah sesuai agar manfaat bahan bakar beroktan tinggi dapat dirasakan tanpa memunculkan gejala knocking atau mesin ngelitik.