Penggunaan BBM dengan nilai Research Octane Number (RON) harus mengikuti rekomendasi pabrikan yang tercantum dalam buku manual atau disesuaikan dengan rasio kompresi mesin. Jika menggunakan RON di bawah standar, dampaknya tidak hanya menurunkan performa dan meningkatkan konsumsi bahan bakar, tetapi juga memengaruhi proses pembakaran di dalam mesin. Victor Assani, 2W Service Head PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), mengatakan penggunaan bensin dengan nilai oktan (RON) yang lebih rendah dari rekomendasi membuat bahan bakar terbakar sebelum waktu yang semestinya akibat tekanan kompresi. "Bensin terbakar sebelum waktunya akibat tekanan kompresi, ini mengapa angka rasio kompresi menjadi penting. Efek dari ini semua adalah terjadinya gesekan atau benturan antara piston dengan dinding silinder secara kasar. Muara dari ini adalah timbulnya suara mengelitik pada mesin atau dalam bahasa kerennya adalah knocking,” kata Victor kepada Kompas.com, Minggu (13/7/2026). Pantauan SPBU Bogor: Pertamax Kosong, Antrean Pertalite Mengular Victor yang juga merupakan Dosen Teknik Industri pada Fakultas Teknologi dan Bisnis Energi Institut Teknologi PLN menjelaskan, memang ada referensi yang menyebut knocking muncul lebih dulu baru kemudian performa mesin menurun, tetapi hal itu relatif. “Yang jelas, paling tidak kedua hal tersebut merupakan gejala yang langsung terasa dan sering ditemui," katanya. Ia menjelaskan, gejala tersebut umumnya lebih mudah dirasakan oleh pengguna yang sebelumnya terbiasa menggunakan BBM dengan RON sesuai rekomendasi pabrikan. Kalau selama ini terbiasa menggunakan RON yang sesuai standar, tentu perbedaannya akan terasa ketika beralih ke RON yang lebih rendah. Namun, jika sejak awal selalu menggunakan RON di bawah angka acuan, biasanya perubahan itu tidak terlalu terasa karena memang tidak ada pembandingnya. Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa penggunaan BBM beroktan lebih rendah secara terus-menerus dapat memicu kerusakan pada berbagai komponen mesin dalam jangka menengah hingga panjang. "Nah, kalau kendaraan terus bekerja dalam kondisi seperti itu dalam jangka menengah sampai panjang, maka akan berakibat pada kerusakan komponen, khususnya di ruang bakar. Misalnya dinding silinder tergores, piston menjadi semakin rapuh, ring piston lebih cepat aus, termasuk katup dan cylinder head karena menerima tekanan yang berlebihan,” ucapnya. Akhirnya, pemilik kendaraan harus menanggung biaya perbaikan hingga penggantian berbagai komponen yang jumlahnya cukup banyak sehingga akumulasinya bisa menjadi mahal.