Berkendara mobil secara agresif sering dianggap lebih cepat dan efisien, namun pada kenyataannya tidak selalu demikian. Gaya ini justru membawa berbagai dampak yang perlu dipahami secara teknis. Berkendara agresif ditandai dengan akselerasi mendadak, pengereman keras, serta perpindahan jalur yang cepat. Kebiasaan ini membuat kendaraan bekerja dalam kondisi yang tidak stabil dan cenderung berat. Eko Setiawan, pemilik bengkel Everest Motors Tangerang Selatan mengatakan kelebihan berkendara agresif adalah waktu tempuh yang terasa lebih singkat. Pada kondisi jalan kosong, pengemudi bisa mencapai tujuan lebih cepat dibandingkan berkendara santai. “Dalam kondisi tertentu seperti menyalip atau menghindari bahaya, akselerasi cepat memang bisa membantu pengemudi bereaksi lebih cepat, sesekali boleh melakukan akselerasi, asalkan dengan perhitungan dan kondisi lalu lintas aman," ucap Eko kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Pada kondisi tertentu, menginjak pedal gas spontan dan dalam bisa membuat mesin lebih prima karena sirkulasi dalam siklus pembakaran lebih optimal. Sehingga, kotoran dan kerak karbon bisa terbuang bersama asap knalpot. Namun, kekurangan berkendara agresif jauh lebih banyak. Dampak paling terasa adalah konsumsi bahan bakar yang menjadi lebih boros akibat injakan gas yang tidak terkontrol. Ilustrasi kickdown pedal gas “Ketika pedal gas diinjak mendadak, sistem mesin langsung menyuplai bahan bakar lebih banyak. Hal ini membuat pembakaran meningkat drastis dan efisiensi energi menjadi menurun,’ ucap Eko. Selain boros BBM, komponen kendaraan juga lebih cepat aus. Kampas rem, ban, dan kopling menjadi bagian yang paling terdampak karena bekerja lebih keras dari biasanya. Mesin juga mengalami tekanan lebih tinggi. Perubahan beban yang mendadak membuat suhu mesin cepat naik dan mempercepat keausan komponen internal. Ilustrasi mesin mobil overheating “Dari segi keawetan komponen, berkendara agresif cukup merugikan, selain itu juga risiko kecelakaan meningkat karena dituntut merespon cepat,” ucap Eko. Jarak pengereman menjadi lebih pendek, dan pengemudi memiliki waktu reaksi yang lebih sempit saat menghadapi situasi tak terduga. Dari sisi kenyamanan, penumpang akan merasa tidak nyaman. Pergerakan mobil yang kasar dan tidak stabil dapat menyebabkan kelelahan bahkan mabuk perjalanan. Berkendara dengan posisi yang ergonomis dapat membantu mengurangi risiko keluhan fisik, seperti pegal, otot kaku, hingga nyeri pada sendi dan tulang belakang. “Sebaliknya, gaya berkendara halus memberikan banyak keuntungan. Akselerasi bertahap dan pengereman lembut membuat kendaraan lebih stabil, hemat BBM, dan komponen lebih awet,” ucap Eko. Kesimpulannya, berkendara agresif sebaiknya dihindari untuk penggunaan harian. Gaya berkendara yang halus dan terkontrol jauh lebih aman, efisien, serta menguntungkan dalam jangka panjang. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang