Busi merupakan komponen penting dalam sistem pembakaran mesin bensin. Jika kondisi busi sudah jelek atau aus, proses pembakaran tidak akan berlangsung optimal, dan ini bisa menimbulkan berbagai kerugian. Maka dari itu, busi perlu diganti secara berkala guna menjaga performa tetap awet dan prima. Kendati demikian, masih saja ada konsumen yang menunda penggantiannya. Secara umum busi mobil perlu diganti setiap 20.000 Km untuk busi nikel, dan 100.000 Km untuk busi iridium. Konsumen bisa menyesuaikan dengan jenis busi yang digunakan. Hari, pemilik bengkel mobil Juna Speed Klaten mengatakan busi yang sudah mulai jelek tidak langsung membuat mobil tak bisa digunakan. “Mobil tetap bisa digunakan meski busi yang mulai jelek tetap belum diganti, namun dari segi performa akan mengalami penurunan bahkan meningkatkan konsumsi BBM,” ucap Hari kepada KOMPAS.com, Sabtu (4/4/2026). Busi yang sudah aus membuat percikan api menjadi lemah atau tidak stabil. Akibatnya, campuran udara dan bahan bakar tidak terbakar sempurna di dalam ruang bakar. Ilustrasi kabel busi mobil Kondisi ini memicu mesin pincang, di mana salah satu silinder gagal melakukan pembakaran dengan baik. Dampaknya, mesin terasa bergetar dan tenaga menjadi tidak merata. “Konsumsi BBM akan meningkat. Karena pembakaran tidak efisien, mesin membutuhkan lebih banyak bahan bakar untuk menghasilkan tenaga yang sama seperti kondisi normal,” ucap Hari. Performa mesin juga ikut menurun. Mobil terasa lebih loyo, akselerasi lambat, dan respons gas tidak secepat biasanya, terutama saat menanjak atau membawa beban. Ilustrasi cek busi mobil Peugeot Astra Busi jelek juga bisa menyebabkan mesin sulit dihidupkan, terutama saat kondisi dingin. Ini karena percikan api tidak cukup kuat untuk memulai pembakaran awal. Jika dibiarkan, kerak atau deposit pada busi dapat memperparah kondisi ruang bakar. Bahkan, bisa memicu knocking atau detonasi akibat pembakaran yang tidak terkontrol. Kerusakan juga bisa merambat ke komponen lain. Misalnya, koil pengapian bekerja lebih keras untuk menghasilkan tegangan tinggi, sehingga berpotensi mempercepat kerusakan. “Emisi gas buang pun menjadi lebih buruk. Pembakaran tidak sempurna menghasilkan lebih banyak polutan seperti karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (HC),” ucap Hari. Kesimpulannya, menggunakan busi yang sudah jelek bisa menyebabkan boros BBM, tenaga turun, mesin tidak stabil, hingga merusak komponen lain. Oleh karena itu, busi perlu dicek dan diganti secara berkala sesuai rekomendasi pabrikan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang