Hujan intensitas tinggi yang mengguyur Jakarta dalam beberapa hari terakhir kembali memicu banjir di sejumlah ruas jalan. Dampaknya tidak hanya menutup badan jalan, tetapi juga merendam trotoar yang sejatinya berfungsi sebagai pembatas aman antara kendaraan dan pejalan kaki. Kondisi trotoar yang terendam ini kerap luput dari perhatian pengemudi. Padahal itu seharusnya menjadi tanda awal bahaya jika nekat melintas di jalan tergenang. Menurut Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), trotoar yang sudah tidak terlihat merupakan indikator penting bagi pengemudi untuk meningkatkan kewaspadaan. Dalam kondisi normal, trotoar berfungsi sebagai penanda lebar jalan dan batas aman kendaraan saat melaju. “Kalau trotoar sudah ikut terendam, itu artinya batas jalan sudah tidak jelas dan potensi genangan di tengah jalan bisa lebih dalam dari yang terlihat,” kata Sony kepada Kompas.com, Selasa (13/1/2026). Sony menjelaskan, saat marka jalan dan trotoar sama-sama tertutup air, pengemudi dituntut memiliki persepsi ruang atau depth perception yang baik untuk membaca arah dan lebar jalan. Namun, kemampuan ini sering kali menurun akibat hujan deras, pantulan lampu di permukaan air, serta keterbatasan jarak pandang. Banjir setinggi 50 cm masih menggenangi Jalan Gunung Sahari, Pademangan, Jakarta Utara hingga sore hari, Senin (12/1/2026) Ia menambahkan, trotoar kanan dan kiri sejatinya masih bisa dimanfaatkan sebagai panduan arah selama bentuk dan posisinya masih terlihat. Namun jika trotoar sudah sepenuhnya hilang dari pandangan, pengemudi sebaiknya tidak memaksakan diri untuk terus melaju. “Kalau trotoar saja sudah tidak kelihatan, saran paling aman adalah putar balik. Jangan nekat, karena besar kemungkinan genangan di depan lebih dalam dan bisa merusak kendaraan atau membahayakan keselamatan,” ujarnya. Selain risiko mogok, genangan dalam juga menyimpan ancaman lain seperti lubang jalan, saluran terbuka, hingga perbedaan kontur aspal yang tidak terlihat. Kondisi ini berbahaya terutama bagi pengendara roda dua maupun mobil dengan ground clearance rendah. Sony menekankan, keputusan untuk berhenti atau berbalik arah saat banjir bukanlah tanda kelemahan pengemudi, melainkan bentuk kesadaran keselamatan. Hal itu justru dapat mencegah risiko kecelakaan dan kerugian yang lebih besar di tengah kondisi cuaca ekstrem. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang