Mengisi bahan bakar dengan oktan (RON) di bawah rekomendasi pabrikan masih kerap dilakukan sebagian pengguna kendaraan, terutama demi menekan biaya operasional. Padahal, kebiasaan ini bukan sekadar soal performa yang menurun, tetapi juga bisa berdampak pada umur mesin dalam jangka panjang. Menurut Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto Zaenuri, penggunaan BBM dengan RON lebih rendah dari yang disarankan dapat memicu pembakaran tidak sempurna di dalam mesin. “Ketika bahan bakar yang digunakan tidak sesuai, maka bisa terjadi detonasi atau knocking, yaitu pembakaran yang terjadi tidak mengikuti percikan busi,” kata Tri kepada Kompas.com, Selasa (14/4/2026). Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat campuran udara dan bahan bakar terbakar secara spontan di beberapa titik dalam ruang bakar. Akibatnya, muncul tekanan dan temperatur tinggi secara tidak merata yang berpotensi merusak komponen mesin. Dalam jangka pendek, gejala yang paling mudah dikenali adalah suara ngelitik saat mesin bekerja, terutama ketika kendaraan dipacu dalam kondisi beban berat atau suhu tinggi. Namun, dampak jangka panjangnya jauh lebih serius. Salah satu SPBU di Kecamatan Kota, Sumenep, Jawa Timur. “Kalau terjadi berulang dalam waktu lama, komponen seperti piston bisa lebih cepat rusak. Piston itu berbahan aluminium yang titik lelehnya relatif rendah, sehingga lebih rentan terhadap panas berlebih,” ujar Tri. Pada kendaraan modern, sebenarnya sudah dibekali knock sensor yang mampu mendeteksi gejala detonasi. Sistem ini kemudian akan menyesuaikan waktu pengapian untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Namun, penyesuaian tersebut bukan tanpa konsekuensi. Tri menyebut, mesin akan kehilangan sebagian tenaganya karena waktu pengapian dimundurkan dari kondisi ideal. “Akibatnya performa turun, tarikan terasa lebih berat, dan konsumsi bahan bakar justru bisa meningkat karena pembakaran tidak berlangsung optimal,” kata dia. Selain itu, emisi gas buang juga cenderung naik karena proses pembakaran yang tidak sempurna. Hal ini tentu bertolak belakang dengan tujuan efisiensi dan standar emisi yang sudah dirancang oleh pabrikan. Karena itu, Tri menegaskan pentingnya mengikuti rekomendasi bahan bakar yang telah ditentukan oleh pabrikan kendaraan. Selain menjaga performa tetap optimal, langkah ini juga menjadi kunci untuk memperpanjang usia pakai mesin. “Pabrikan yang paling tahu kebutuhan mesin yang mereka buat. Jadi sebaiknya gunakan bahan bakar sesuai spesifikasi agar kinerja dan keawetan mesin tetap terjaga,” ujarnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang