Sebagian pemilik kendaraan masih memilih menggunakan bahan bakar dengan angka oktan lebih rendah dari yang direkomendasikan pabrikan. Biasanya alasan yang muncul adalah harga yang lebih murah atau ketersediaan BBM tertentu yang lebih mudah ditemukan. Rupanya, kebiasaan ini berpotensi memengaruhi kinerja mesin jika dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang. Menurut Ahli Konservasi Energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto Zaenuri, penggunaan BBM dengan RON lebih rendah dari rekomendasi dapat memicu fenomena detonasi atau yang sering dikenal sebagai mesin ngelitik. “Ketika bahan bakar yang digunakan memiliki ketahanan detonasi lebih rendah dari yang dibutuhkan mesin, campuran udara dan bahan bakar bisa terbakar sendiri sebelum percikan busi. Inilah yang menimbulkan gejala ngelitik,” kata Tri kepada Kompas.com, Jumat (6/3/2026). Tri menjelaskan, detonasi terjadi karena pembakaran tidak mengikuti proses yang dirancang oleh pabrikan mesin. Kondisi ini membuat suhu di dalam ruang bakar meningkat secara tidak merata dan bisa menciptakan titik panas pada komponen tertentu. Jika kondisi tersebut terjadi berulang dalam jangka panjang, risiko kerusakan mesin bisa meningkat. Salah satu komponen yang paling rentan adalah piston karena umumnya terbuat dari aluminium yang memiliki titik leleh lebih rendah dibandingkan material baja pada komponen lain. Ilustrasi ring piston mesin sudah aus “Temperatur tinggi yang muncul secara lokal di ruang bakar dapat membuat piston mengalami tekanan dan panas berlebih. Jika terus terjadi, lama-lama bisa mempercepat kerusakan komponen mesin,” ujar Tri. Pada mobil modern, sebenarnya sudah terdapat teknologi seperti knock sensor yang dapat mendeteksi gejala detonasi. Sistem ini kemudian akan menyesuaikan waktu pengapian agar pembakaran tetap terkendali. Namun penyesuaian tersebut biasanya berdampak pada performa mesin. Tenaga yang dihasilkan bisa menurun karena sistem pengapian dibuat lebih aman untuk mencegah kerusakan. “Mobil tetap bisa berjalan, tetapi performanya biasanya menurun dan pembakarannya tidak seoptimal ketika menggunakan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan,” kata Tri. Karena itu, Tri menyarankan pemilik kendaraan untuk mengikuti spesifikasi bahan bakar yang telah ditentukan oleh pabrikan. Rekomendasi tersebut dibuat berdasarkan karakteristik mesin, efisiensi bahan bakar, serta standar emisi yang harus dipenuhi kendaraan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang