Pemerintah China resmi memperbarui standar industri nasional untuk komponen range extender pada kendaraan listrik berjarak tempuh jauh alias Extended Range Electric Vehicle (EREV). Langkah ini diambil guna menggantikan regulasi lama yang sudah mandek selama delapan tahun. Dikutip dari Carnewschina.com, Senin (8/6/2026), regulasi anyar berkode QC/T1086-2026 ini bakal berlaku mulai 1 November mendatang. Menariknya, aturan baru ini jauh lebih ketat karena fokus pada target kinerja yang bisa diukur langsung, mulai dari akurasi daya, tingkat kebisingan (NVH), hingga ketahanan komponen dalam jangka panjang. Langkah Tiongkok memperketat standarisasi EREV sebenarnya menjadi angin segar sekaligus alarm bagi pasar otomotif Indonesia. Pasalnya, teknologi yang sering disebut sebagai "mobil listrik punya genset" ini justru diprediksi bakal menjadi jembatan paling realistis bagi konsumen tanah air sebelum benar-benar beralih ke Battery Electric Vehicle (BEV) murni. BAIC BJ41 yang merupakan BJ40 Pro REEV di China Durabilitas Untuk urusan durabilitas, standar baru ini menantang pabrikan lewat dua ujian berat, yaitu uji beban bergantian selama 750 jam dan uji start-stop sebanyak 100.000 siklus. Tes ekstrem ini dirancang untuk menyimulasikan masa pakai kendaraan hingga 300.000 km di jalur perkotaan yang padat. Langkah masif Tiongkok ini sejalan dengan melonjaknya pasar EREV. Penjualan mobil jenis ini di Tiongkok tercatat menembus 1 juta unit pada 2024, dan melonjak ke 1,2 juta unit pada 2025. Peluang di Indonesia Melihat pasar otomotif Indonesia, tantangan utama adopsi mobil listrik murni masih berkutat pada infrastruktur pengisian daya (charging station) yang belum merata, serta penyakit kronis berupa range anxiety alias kecemasan pengendara akan kehabisan baterai di tengah jalan. Kondisi ini yang membuat EREV masuk sebagai solusi penengah yang sangat seksi. Global Classic Journey, iCAR V27 REEV long test drive lebih kurang 160 km di Wuhu, China. Secara regulasi, pemerintah Indonesia saat ini memang masih menyamakan insentif EREV ke dalam kategori Hybrid Electric Vehicle (HEV) atau Plug-in Hybrid (PHEV), bukan mobil listrik murni (BEV). Efeknya, EREV belum mendapatkan keistimewaan bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10 persen seperti saudaranya yang murni berbasis baterai. Meski demikian, para raksasa otomotif Tiongkok yang beroperasi di Indonesia tampaknya tidak ambil pusing dan mulai curi start. Beberapa pabrikan bahkan sudah terang-terangan mengenalkan dan mempersiapkan lini produk EREV mereka untuk pasar domestik guna melihat respons konsumen. Leapmotor C10 REEV meluncur di Brussels Motor Show 2025 Sebut saja langkah Changan Indonesia yang sempat memamerkan teknologi EREV mereka lewat Deepal S05. Beberapa merek Tiongkok lainnya juga tertarik memboyong teknologi serupa ke Tanah Air. Pasar Indonesia yang gemar melakukan perjalanan antar-kota dinilai sangat cocok dengan karakter EREV. Dengan adanya standar baru QC/T1086-2026 yang super ketat di Tiongkok, konsumen di Indonesia sebenarnya diuntungkan. Mobil-mobil EREV rakitan Tiongkok yang nantinya masuk ke pasar nasional secara otomatis sudah mengusung komponen range extender yang jauh lebih senyap (NVH lebih baik), lebih efisien, dan punya durabilitas tinggi hingga 300.000 km. Jadi, ketika pasar Tiongkok sudah sukses menyaring produk EREV berkualitas tinggi lewat regulasi baru tersebut, Indonesia tinggal memetik hasilnya. Tantangan berikutnya tinggal bagaimana Agen Pemegang Merek (APM) di dalam negeri mampu meramu strategi harga yang pas agar teknologi "anti-cemas" ini bisa diterima luas oleh masyarakat. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang