Motor matik yang menerobos banjir sering dianggap masih aman selama mesin tidak mati. Padahal, ada komponen penting yang sering luput dari perhatian, yakni Continuously Variable Transmission (CVT). CVT motor matik sangat rentan bermasalah ketika terendam air, terutama saat banjir dengan genangan cukup tinggi. Air banjir yang masuk ke area CVT berpotensi membawa debu, pasir, hingga lumpur, sehingga mengganggu kinerja komponen di dalamnya. Supriyono, Kepala Bengkel Yamaha Panggung Motor Solo, mengatakan, CVT motor yang terendam banjir sangat rentan terkontaminasi air, debu, dan lumpur. Sejumlah pengendara sepeda motor bertahan di tengah hujan deras saat banjir setinggi 60 sentimeter menggenangi Jalan Raya Bintara, Bekasi Barat, Kamis (22/1/2026). Jika tidak segera ditangani atau dibersihkan, kondisi tersebut dapat memicu karat dan korosi pada komponen CVT. “Efek terdekat yang biasanya muncul adalah motor menjadi selip di area CVT. Kalau tetap digunakan tanpa dibersihkan, kondisinya bisa semakin parah karena CVT seharusnya bekerja dalam keadaan bersih,” kata Supriyono kepada Kompas.com, Senin (26/1/2026). Selain itu, kondisi CVT yang kotor akibat terendam banjir tidak hanya memengaruhi kenyamanan berkendara, tetapi juga berdampak langsung pada performa mesin. “Dampaknya, tenaga motor menurun dan konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros,” kata Supriyono. Ia menegaskan, CVT yang sempat terendam banjir sebaiknya dibongkar dan dibersihkan untuk mencegah kerusakan lanjutan. Namun sebagai langkah antisipasi awal, pemilik motor setidaknya bisa membuka cover CVT. “Minimal buka tutup atau cover CVT terlebih dulu. Kalau tidak terlihat lumpur atau kotoran, motor masih bisa digunakan sementara, tetapi tetap disarankan segera dilakukan pemeriksaan menyeluruh,” ucapnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang