Air dapat menghantarkan listrik dan komponen elektronik bisa rusak bila terkena air. Hal ini sudah menjadi pengetahuan umum yang tidak terbantahkan. Namun, seiring berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang sehingga ada beberapa alal elektronik dibuat tahan air, seperti smartphone, smartwatch dan lainnya. Rupanya, hal ini juga berlaku pada mobil listrik. Terlebih lagi, cuaca di berbagai belahan dunia memang menuntut mobil harus tahan air, seperti di negara-negara beriklim tropis, yang curah hujannya tinggi. Rasyid, Sales Consultant Chery Solo mengatakan banjir di Indonesia tentu menjadi faktor kondisi yang diperhatikan oleh pabrikan mobil listrik, mengingat secara alamian komponen elektronik bisa rusak bila terkena air. “Sementara di mobil listrik justru sudah mendapat perlindungan ekstra, sehingga meski module dan baterainya terendam air, karena letaknya di bawah lantai mobil, tetap aman digunakan,” ucap Rasyid kepada KOMPAS.com, Kamis (4/12/2025). Bahkan, menurut Rasyid, beberapa mobil listrik tetap bisa melaju menerjang banjir dengan ketinggian air di bawah kaca spion. Hal ini tentu berbeda dengan mobil bermesin bakar (ICE) yang berpotensi kena water hammer. Banjir di kawasan permukiman Desa Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Kamis (4/12/2025) “Baterai terendam air memang, tapi dia sudah terlindungi, ditambah lagi dapur pacu mobil listrik bukan pakai sistem pembakaran internal, makanya tidak akan mogok atau kena water hammer,” ucap Rasyid. Mahaendra Gofar, Sustainable Mobility Expert, mobil listrik justru lebih aman dibanding mobil berbahan bakar konvensional, karena sistem kelistrikannya telah dirancang dengan perlindungan khusus. "Mobil listrik umumnya memiliki sertifikasi IP67, yang berarti komponen kelistrikannya tahan terhadap debu total dan dapat bertahan dalam air setinggi satu meter selama 30 menit tanpa mengalami kebocoran," ucap Gofar mengutip dari KOMPAS.com, belum lama ini. Kendaraan listrik lebih aman saat banjir karena tidak memiliki manifold sehingga tidak ada risiko air masuk ke dalam sistem pembakaran seperti pada mobil berbahan bakar bensin atau diesel. "Sebagian besar kendaraan listrik juga telah menjalani uji , yaitu pengujian ketahanan dalam air dengan ketinggian yang bervariasi tergantung spesifikasinya. Ini memastikan mobil tetap aman meski melewati genangan air," ujarnya. Menurut Gofar, kekhawatiran masyarakat berasal dari pemahaman dasar bahwa listrik tidak boleh bersentuhan dengan air. Padahal, teknologi kendaraan listrik sudah didesain dengan perlindungan ketat untuk mencegah risiko dasar tersebut. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang