Menghadapi pengemudi agresif di jalan raya menjadi tantangan tersendiri, terutama saat arus lalu lintas padat seperti momen arus balik Lebaran. Tidak sedikit pengendara yang melampiaskan emosi dengan cara berkendara ugal-ugalan, memotong jalur secara tiba-tiba, hingga berkendara terlalu dekat dengan kendaraan lain. Kondisi ini menuntut pengemudi lain untuk lebih waspada, salah satunya dengan menjaga jarak aman sebagai bagian dari teknik defensive driving. Menurut Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), menjaga jarak aman bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi menjadi langkah penting untuk menghindari risiko kecelakaan akibat perilaku pengemudi lain. "Pengemudi harus sadar bahwa di jalan itu kita berbagi ruang dengan banyak karakter. Kalau ada yang agresif, jangan dilawan, tapi justru dijauhkan jaraknya supaya kita punya waktu reaksi lebih panjang," kata Sony kepada Kompas.com, Kamis (26/3/2026). Sony menjelaskan, salah satu teknik dasar yang bisa diterapkan adalah memperbesar jarak dengan kendaraan di depan, terutama jika terindikasi dikemudikan secara agresif. Ilustrasi mengemudi mobil listrik Hal ini memberikan ruang antisipasi apabila kendaraan tersebut melakukan pengereman mendadak atau manuver tiba-tiba. Selain itu, pengemudi juga disarankan untuk tidak berada terlalu lama di sisi kendaraan agresif, baik di samping maupun belakang. Jika memungkinkan, segera ambil posisi aman dengan berpindah jalur atau mengurangi kecepatan agar jarak semakin lebar. “Kalau kita terus berada di dekat pengemudi seperti itu, risikonya tinggi. Lebih baik mengalah dan cari ruang kosong. Prinsipnya bukan cepat sampai, tapi selamat sampai,” ujar Sony. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga emosi saat berkendara. Terpancing oleh perilaku pengemudi lain justru bisa membuat situasi semakin berbahaya, karena fokus pengemudi akan terpecah dan berpotensi mengambil keputusan yang keliru. Dengan menerapkan teknik menjaga jarak aman dan tetap tenang, pengemudi bisa meminimalkan risiko di jalan. Pada akhirnya, keselamatan menjadi tujuan utama dalam berkendara, bukan sekadar mengikuti ritme atau emosi pengguna jalan lain. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang