Permasalahan lalu lintas di Indonesia kerap dipersepsikan sebagai soal keterampilan berkendara, mulai dari kemampuan mengemudi hingga penguasaan teknik kendaraan. Namun, di balik berbagai insiden di jalan raya, mulai dari pelanggaran ringan, adu mulut, hingga kekerasan fisik, akar persoalannya dinilai jauh lebih mendasar, yakni soal pola pikir dan kesadaran keselamatan yang belum terbentuk dengan baik. Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menilai perilaku pengendara di jalan sangat ditentukan oleh mindset yang dibangun sejak awal. Rendahnya kesadaran keselamatan akan membentuk pola pikir keliru, yang kemudian tercermin dalam perilaku agresif dan emosional di jalan. “Masalah utama di lalu lintas kita itu bukan skill, melainkan mindset. Kesadaran tentang keselamatan masih rendah, sehingga membentuk pola pikir yang salah,” kata Jusri kepada Kompas.com, Kamis (22/1/2026). Tangkapan layar pengemudi Daihatsu emosi di jalan raya karena tidak terima diklakson. Menurut Jusri, dari pola pikir tersebut kemudian muncul perilaku tidak sabar, arogan, tidak tertib, serta minim empati terhadap pengguna jalan lain. Padahal, keselamatan berkendara sangat bergantung pada sikap dan kesadaran individu, bukan semata kemampuan teknis. Ia menjelaskan, pola pikir seseorang tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang sejak usia dini. Lingkungan keluarga, pengalaman pribadi, serta contoh perilaku sehari-hari menjadi faktor utama pembentuk pola pikir berlalu lintas. “Anak-anak belajar perilaku di jalan bukan dari buku atau sekolah, tapi dari orang tua dan lingkungan terdekat. Kalau sejak kecil melihat pelanggaran dianggap wajar, itu akan terus direplikasi sampai dewasa,” ujarnya. Selain faktor pembentukan sejak dini, Jusri juga menyoroti pengaruh kondisi psikologis pengendara. Tekanan mental akibat masalah keuangan, persoalan keluarga, beban pekerjaan, hingga kelelahan dapat memicu perubahan perilaku saat berkendara. “Kondisi stres bisa membuat orang yang sebenarnya sabar menjadi impulsif. Ini berbahaya karena berkendara itu aktivitas multitasking yang menuntut konsentrasi tinggi,” kata dia. Menurut Jusri, tanpa perubahan mindset yang menyeluruh, berbagai kampanye dan pelatihan keselamatan berisiko hanya menjadi slogan semata, sementara perilaku berisiko di jalan terus berulang. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang