Pelanggaran lalu lintas melawan arah masih kerap ditemui di berbagai ruas jalan, meski kepolisian terus menggencarkan operasi dan penindakan. Razia rutin serta sanksi tilang sudah berulang kali dilakukan, namun praktik melawan arus seolah menjadi kebiasaan sebagian pengendara yang mengabaikan keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya. Head of Safety Riding PT Wahana Makmur Sejati Agus Sani, menilai fenomena ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran berkendara di jalan raya. Menurutnya, banyak pengendara yang memandang pelanggaran lalu lintas sebagai hal sepele selama dianggap mempersingkat waktu tempuh. “Melawan arah itu bukan sekadar melanggar aturan, tapi mencerminkan cara berpikir pengendara yang belum menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama,” kata Agus kepada Kompas.com belum lama ini. Agus menjelaskan, budaya berkendara yang salah sering terbentuk karena kebiasaan melihat pelanggaran dilakukan secara berulang tanpa rasa bersalah. Ketika satu pengendara melawan arah dan tidak langsung mendapat sanksi, perilaku tersebut kerap ditiru oleh pengendara lain. Pengendara sepeda motor lawan arah di Jalan Lebak Bulus Raya, Cilandak, Jakarta Selatan, diprotes pengendara lain. (foto tangkapan layar akun @duckiiiies di TikTok). “Ini yang berbahaya. Pelanggaran menjadi normal, padahal risikonya sangat tinggi, terutama potensi tabrakan frontal yang bisa berujung fatal,” ujarnya. Ia menambahkan, penegakan hukum yang tegas memang penting, namun tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan edukasi berkelanjutan. Kesadaran pengendara, kata Agus, harus dibangun sejak awal bahwa jalan raya adalah ruang bersama yang menuntut tanggung jawab kolektif. Selain peran aparat dan pemerintah, Agus juga menyoroti pentingnya keterlibatan perusahaan dalam membentuk budaya tertib lalu lintas. Potret pengendara motor saat kucing-kucingan dengan petugas kepolisian saat melawan arus di persimpangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (6/3/2024). Edukasi keselamatan berkendara kepada karyawan yang menggunakan kendaraan setiap hari dinilai bisa menjadi langkah strategis untuk menekan pelanggaran. “Keselamatan lalu lintas itu bukan hanya tugas polisi. Perusahaan, masyarakat, dan pengendara sendiri harus punya kesadaran bahwa satu pelanggaran kecil bisa berdampak besar bagi banyak orang,” ucapnya. Agus berharap, ke depan pengendara tidak lagi menjadikan alasan buru-buru atau jalan lebih dekat sebagai pembenaran untuk melawan arah. Menurutnya, perubahan budaya berkendara hanya bisa terwujud jika setiap pengguna jalan memahami bahwa tertib lalu lintas adalah bentuk kepedulian terhadap nyawa, baik milik sendiri maupun orang lain. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang