JAKARTA, KOMPAS.com - Tak jarang orang masih menjadikan ego sebagai dasar saat mengemudi, seolah jalan raya adalah arena adu cepat dan pembuktian diri siapa yang paling dulu tiba di tujuan. Padahal, berkendara bukan soal gengsi atau menang-menangan, melainkan bagaimana seseorang bisa berangkat dari satu titik dan tiba dengan selamat tanpa mencelakakan diri sendiri maupun pengguna jalan lain. Menurut Sony Susmana, Training Director di Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), keselamatan harus menjadi orientasi utama setiap pengemudi sebelum memutar kunci kontak kendaraan. “Mengemudi itu definisinya sederhana, berangkat dari satu titik dan tiba di tujuan dengan selamat. Kalau selamat itu tidak tercapai, berarti ada yang salah dalam cara berpikir maupun cara berkendaranya,” kata Sony kepada Kompas.com, Senin (23/2/2026). Sony menjelaskan, kegagalan memahami tujuan dasar mengemudi sering membuat pengendara mudah terdistraksi. Fokus yang seharusnya tertuju pada kondisi lalu lintas, jarak aman, dan potensi bahaya, justru teralihkan oleh emosi, rasa terburu-buru, atau terpancing perilaku pengemudi lain. Di jalan raya, lanjut dia, setiap orang membawa latar belakang masalah masing-masing. Tidak sedikit pengemudi yang melampiaskan tekanan pribadi dengan cara berkendara agresif, seperti ugal-ugalan, memotong jalur secara tiba-tiba, atau memacu kendaraan tanpa memperhatikan situasi sekitar. “Kadang jalan itu seperti tempat curhat paling ekstrem. Masalah di kantor, di rumah, bisa tumpah di jalan. Tapi kita tidak boleh ikut terseret. Jangan mau jadi tempat pelampiasan emosi orang lain,” ujarnya. Pada posisi ini pentingnya menerapkan defensive driving atau teknik berkendara defensif. Prinsipnya bukan sekadar mematuhi aturan lalu lintas, tetapi juga mampu membaca potensi bahaya dari jauh dan mengambil keputusan paling aman, meski harus mengalah. Mengalah, menurut Sony, bukan berarti lemah atau kalah. Justru itu adalah bentuk kecerdasan dalam berkendara. Memberi jalan pada pengemudi agresif, menjaga jarak lebih jauh dari kendaraan yang tidak stabil, atau memilih memperlambat laju kendaraan saat situasi tidak kondusif merupakan bagian dari strategi keselamatan. Ia menekankan, tujuan akhir berkendara bukan soal siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tiba dengan kondisi utuh dan tanpa insiden. Kecepatan bisa dikejar, tetapi keselamatan tidak bisa ditawar. Karena itu, setiap pengemudi perlu menata ulang pola pikirnya. Jalan raya bukan arena kompetisi, melainkan ruang publik yang digunakan bersama. Kesadaran bahwa keselamatan adalah prioritas utama akan membantu menekan risiko kecelakaan dan menciptakan lalu lintas yang lebih tertib. “Kalau orientasinya selamat, keputusan yang diambil di jalan pasti berbeda. Lebih sabar, lebih antisipatif, dan tidak mudah terpancing,” kata Sony. Pada akhirnya, perjalanan yang berhasil bukanlah yang paling cepat, tetapi yang paling aman. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang