Mengemudi di kampung halaman saat mudik Lebaran tidak selalu mudah, terutama bagi perantau yang sudah lama tidak pulang. Perubahan rute, aturan lalu lintas, hingga kebiasaan pengguna jalan setempat menuntut pengemudi untuk beradaptasi. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, bahkan dalam kondisi normal pun seseorang bisa kebingungan saat kembali ke kota asalnya. “Tidak usah dalam situasi mudik, tapi dalam situasi normal saja ketika saya kembali ke Surabaya, kota besar itu saya bingung dengan lalu lintasnya, rutenya, semuanya one way,” kata Jusri kepada Kompas.com, Kamis (19/3/2026). Kondisi lalu lintas di Pecinan, kawasan Alun-alun Kota Magelang, Rabu (18/3/2026). Karena itu, pengemudi disarankan memanfaatkan teknologi navigasi untuk membantu perjalanan. Jusri menegaskan penggunaan peta digital dapat mengurangi distraksi dibanding harus menebak arah jalan. “Gunakan Google Maps, tetap pakai itu. Instruksi rute yang kita ingin lewati itu betul-betul aman daripada kita harus mencari ini ke mana, ke kiri, ke kanan, jangan sok tahu,” ujarnya. Selain rute, pengemudi juga perlu memahami karakter berkendara di daerah tujuan. Jusri menyebut secara umum perilaku pengendara di Indonesia mirip, namun di beberapa daerah terdapat perbedaan budaya berkendara yang cukup signifikan. “Rata-rata karakter driving orang Indonesia nyaris sama. Masih ada yang suka melanggar, menerobos lampu merah, dan sebagainya” kata Jusri. Kondisi ini menuntut pengemudi untuk lebih waspada dan tidak hanya mengandalkan aturan, tetapi juga membaca situasi di jalan. Dengan adaptasi yang baik, perjalanan mudik di kampung halaman bisa tetap aman dan nyaman. Pengemudi diingatkan untuk tidak terburu-buru serta selalu mengutamakan keselamatan selama perjalanan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang