Belum lama ini viral di media sosial sebuah video yang memperlihatkan cekcok di jalan raya, tepatnya di dekat pintu keluar Tol JORR Pondok Indah pada Jumat (28/11/2025). Rekaman tersebut menunjukkan aksi arogansi seorang pengemudi Suzuki Karimun yang terekam melalui kamera dashcam. Dalam video, pengemudi Karimun tersebut tampak marah kepada sopir yang berada di mobil dengan dashcam karena merasa tidak terima diberi lampu dim dan klakson setelah memotong lajur kendaraan lain. Situasi semakin memanas ketika pengemudi Karimun keluar dari mobil sambil menenteng benda tajam yang diduga pedang, lalu menantang sopir di dalam mobil tersebut. "Driver saya memilih menghindar namun ternyata pengemudi karimun mengejar dan menggetok kaca sisi kanan dengan senjata tajam yang tampak seperti pedang dimana anak perempuan saya duduk dan mengeluarkan kata- kasar berkali2, terdengar mengancam dengan mengajak tarung (video 2)," tulis penjelasan jabodetabek24info, diktuip Senin (1/12/2025). Menanggapi video tersebut, Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), mengatakan, apa yang dilakukan sopir di dalam mobil sudah benar. Bahaya road rage saat berkendara. “Apa yang dilakukan pengemudi itu sudah tepat dan bisa dicontoh oleh orang lain dalam kondisi serupa. Tetap tenang, tidak keluar dari mobil, dan merekam kejadian untuk dijadikan bukti," katanya kepada Kompas.com, Minggu (30/11/2025). Jusri menegaskan, dalam situasi jalan raya yang memanas, respons pengemudi dapat menjadi pembeda antara selamat atau terseret konflik. Jika terjadi perselisihan di jalan, pengemudi tidak perlu turun dari mobil atau mencoba menjelaskan duduk perkara. Perilaku tersebut justru dapat dianggap sebagai tindakan menantang dan memperburuk situasi. "Insiden seperti ini sebagai bentuk road rage atau perilaku agresif dan emosional di jalan raya yang bisa membahayakan keselamatan. Jadi kita jangan ikut," ujar Jusri. Ilustrasi perkelahian di jalan Jusri mengingatkan bahwa persoalan benar atau salah bukan untuk ditentukan oleh pengemudi di lokasi kejadian. “Perlu diingat, soal benar atau salah bukan ranah kita. Itu tugas polisi dan hakim,” kata Jusri. Jusri mengatakan ketika menghadapi pengemudi yang emosional atau agresif, langkah terbaik adalah tetap tenang, tidak terpancing, dan tidak melakukan kontak fisik maupun verbal. Tetap berada di dalam kendaraan, amankan pintu, dan jika memungkinkan rekam kejadian serta segera mencari bantuan pihak berwenang. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang