Kesadaran menjaga jarak aman saat berkendara masih menjadi pekerjaan rumah bagi banyak pengemudi. Padahal, kebiasaan ini sangat menentukan keselamatan, baik di jalan tol maupun jalan biasa. Tanpa disadari, sejumlah perilaku di jalan tergolong tidak aman. Kondisi super car Porsche usai menabrak Rush hingga terbalik di Tol Sidoarjo-Porong, Minggu (1/6/2025). Mulai dari melaju pelan di lajur kanan tol hingga membiarkan jarak kendaraan terlalu rapat, baik dengan kendaraan di depan maupun di belakang. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, salah satu contoh yang kerap ditemui adalah kendaraan yang berjalan santai di lajur kanan atau dikenal dengan istilah lane hogger. “Contoh perilaku-perilaku tidak aman, saya ingin sampaikan lagi, adalah perilaku tidak aman yang sering kali tidak disadari oleh para pengguna kendaraan bermotor," ujar Jusri kepada Kompas.com, Senin (16/2/2026). "Kita bisa lihat bagaimana sebuah mobil di depan dalam kondisi landhogger di tol. Di belakangnya ada mobil yang lebih cepat, menempel cukup dekat, tetapi pengemudi di depan santai-santai saja. Dia tidak berpikir ada risiko ditabrak dari belakang. Dia juga tidak berpikir ada risiko kelalaian yang bisa saja dilakukan oleh pengemudi di belakangnya," ujarnya. Sejumlah pengendara sepeda motor tampak memarkirkan kendaraannya di atas jalur sepeda yang dicat hijau di kawasan jalan protokol Jakarta, Rabu (11/2/2026). Menurut dia, kondisi serupa juga banyak ditemui di jalan raya biasa. Tidak sedikit pengemudi mobil maupun sepeda motor yang melaju santai tanpa menyadari kendaraan besar berada sangat dekat di belakangnya. "Atau di jalan biasa, kita lihat bagaimana ibu-ibu atau siapa saja dengan mobil kecil, atau bahkan pengendara motor, dengan santai entah disadari atau tidak di belakangnya ada truk atau bus. Jaraknya relatif sangat dekat, tetapi mereka tetap tenang-tenang saja," katanya. Kondisi mobil pikap muatan kardus bekas yang terguling di Jalan Raya Gilang, Sidoarjo, diduga akibat muatan berlebih, Jumat (13/02/2026). Jusri menilai, banyak pengendara merasa situasi masih terkendali meski jarak dengan kendaraan lain sangat dekat. Padahal tanpa ruang yang cukup, waktu untuk bereaksi saat terjadi pengereman mendadak menjadi sangat terbatas. Karena itu, pengemudi perlu membiasakan diri menjaga jarak aman, tidak berlama-lama di lajur kanan, serta selalu menyisakan ruang sebagai jalur evakuasi. Kesadaran sederhana ini bisa menjadi pembeda antara perjalanan yang aman dan situasi yang berisiko. Pemahaman Manajemen Ruang di Jalan "Nah, ini mencerminkan bahwa pemahaman atau apresiasi terhadap ruang, atau manajemen ruang di jalan, itu tidak ada atau sangat lemah," ujar Jusri. Ketika pengemudi memiliki ruang dan waktu, maka peluang untuk bereaksi dan menghindari bahaya akan jauh lebih besar. "Kalau di Amerika atau di Inggris, manajemen ruang ini sangat dipahami. Space management dan space and time management. Kenapa? Karena korelasi ruang itu adalah waktu. Artinya, kalau ada ruang pasti ada waktu, dan kalau ada waktu pasti ada ruang," katanya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang