Berkendara saat bulan puasa memiliki tantangan tersendiri. Kondisi fisik yang berubah, jam istirahat yang bergeser, hingga rasa lapar dan haus kerap memengaruhi emosi pengendara di jalan. Situasi lalu lintas yang padat, ditambah perilaku pengguna jalan lain yang tidak selalu tertib, bisa dengan mudah memicu emosi. Padahal, pengendalian diri menjadi kunci utama agar perjalanan tetap aman hingga sampai tujuan. Head of Safety Riding Promotion Wahana, Agus Sani, mengatakan, agar tidak mudah terpancing emosi saat berkendara di bulan puasa, maka pengendara perlu lebih banyak mengelola pikiran dan sikap. Ilustrasi kemacetan jalanan Jakarta. "Anggap kondisi lalu lintas sebagai sesuatu yang harus dihadapi dengan sabar, bukan dilawan," ujar Agus, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Menurut dia, sudut pandang terhadap kondisi jalan sangat menentukan respons pengendara. Ketika kemacetan atau pelanggaran pengguna jalan lain dianggap sebagai tantangan yang harus “dimenangkan”, maka emosi cenderung mudah terpancing. "Tetap fokus pada tujuan sampai selamat, bukan pada perilaku orang lain di jalan, yaitu dengan menjaga jarak aman, menghindari klakson yang berlebihan, serta mengingat bahwa puasa juga melatih pengendalian diri," kata Agus. Merasakan sensasi berkendara Grand Filano Hybrid 125 di Bandung, skutik bergaya klasik-modern dengan fitur praktis. Ia menegaskan, esensi puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kesabaran serta pengendalian emosi. Nilai tersebut seharusnya tercermin pula dalam perilaku berkendara sehari-hari. "Emosi bisa lebih terjaga dan risiko kecelakaan dapat ditekan, jangan lupa untuk cari aman saat naik motor," ujarnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang