Menjelang waktu berbuka puasa, kondisi lalu lintas di banyak kota besar biasanya semakin padat. Pada saat yang sama, para pengendara sepeda motor sudah berada dalam kondisi lelah setelah beraktivitas seharian tanpa asupan makanan dan minuman. Situasi ini menjadi lebih berisiko bagi pemotor karena mereka tidak memiliki perlindungan bodi kendaraan seperti pengemudi mobil. Kombinasi kelelahan fisik, rasa lapar, serta dorongan ingin segera tiba di rumah sebelum adzan, diam-diam bisa menurunkan konsentrasi saat berkendara. Potret kondisi Pantura Demak saat berbaikan, nedan jalan berlumpur dan tidak aman dilintasi pengendara motor, Senin (26/1/2026) Dalam kondisi seperti itu, pengendara motor menjadi lebih rentan karena keseimbangan, refleks tangan, dan fokus visual sangat menentukan keselamatan. Menurut Agus Sani, Head of Safety Riding Promotion PT Wahana Makmur Sejati, penurunan fokus saat puasa bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan berkaitan dengan kondisi fisiologis tubuh. “Ketika seseorang berpuasa, kadar gula darah kan biasanya menurun, tubuh mengalami dehidrasi, itu berpengaruh terhadap konsentrasi serta waktu reaksi saat berkendara,” kata Agus kepada Kompas.com, Minggu (22/2/2026). Ia menjelaskan, konsentrasi yang menurun membuat pemotor lebih lambat merespons situasi tak terduga, seperti kendaraan di depan yang mendadak mengerem, pengendara lain berpindah jalur tanpa sein, atau pejalan kaki yang menyeberang di sela kemacetan. Dalam kondisi normal, waktu reaksi rata-rata sekitar 1 detik. Namun saat tubuh lelah dan kurang fokus, respons tersebut bisa melambat. “Selisih sepersekian detik saja sangat menentukan. Di kecepatan 60 km per jam, kendaraan bisa melaju belasan meter dalam satu detik. Kalau reaksinya terlambat, jarak pengereman jadi tidak cukup,” ujarnya. Ilustrasi berkendara di kemacetan Pada sepeda motor, keterlambatan reaksi tidak hanya berdampak pada jarak pengereman, tetapi juga pada stabilitas kendaraan. Saat tubuh lemas dan konsentrasi menurun, kontrol terhadap setang, tuas rem, dan keseimbangan motor bisa terganggu. Risiko tergelincir atau terjatuh pun meningkat, terutama di tengah kepadatan lalu lintas menjelang berbuka. Selain faktor fisik, Agus menilai aspek psikologis juga berperan besar. Menjelang magrib, banyak pemotor terdorong agar bisa segera sampai rumah tepat sebelum adzan. Tekanan ini membuat emosi lebih mudah tersulut, apalagi ketika terjebak macet. Kondisi tersebut berpotensi memicu keputusan berisiko, seperti menyalip secara agresif, memacu motor melebihi batas kecepatan, atau menerobos lampu kuning yang hampir berubah merah. Padahal, kemampuan menilai risiko juga cenderung menurun ketika tubuh dalam keadaan lelah. Agus menyarankan agar pengendara menyadari keterbatasan tubuh saat berpuasa dan tidak memaksakan diri. Salah satu langkah sederhana adalah berangkat lebih awal agar tidak terburu-buru di jalan. Menjaga kecepatan tetap stabil, mempertahankan jarak aman, serta menghindari manuver mendadak menjadi kunci keselamatan. Pemudik motor melintas di Jalan Raya Puncak, Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (29/3/2025). KBO Satlantas Polres Bogor Iptu Ardian Novianto mengatakan lalu lintas kendaraan di jalur Puncak, Bogor mengalami peningkatan yang signifikan pada arus mudik Lebaran 2025 dan mencapai puncaknya pada Jumat (28/3/2025) malam dengan tujuan ke wilayah regional Jawa Barat seperti Cianjur, Cianjur Wetan dan Bandung. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/rwa. “Jangan kejar waktu, tapi kejar selamat. Terlambat beberapa menit itu biasa, yang penting sampai rumah dalam keadaan aman,” katanya. Ia menambahkan, bila merasa sangat lelah atau mulai kehilangan fokus, pemotor sebaiknya menepi sejenak untuk beristirahat. Keselamatan di jalan jauh lebih penting daripada sekadar tiba tepat waktu untuk berbuka. Dengan memahami bahwa puasa dapat memengaruhi konsentrasi dan waktu reaksi, para pengendara motor diharapkan lebih waspada dan bijak dalam mengambil keputusan. Sebab di atas roda dua, satu momen lengah saja bisa berujung fatal. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang