Microsleep ketika berkendara di bulan Puasa Ramadhan menjadi salah satu risiko yang kerap diabaikan pengemudi, terutama saat jam rawan mengantuk menjelang berbuka atau setelah sahur. Kondisi kurang tidur dan perubahan pola istirahat dapat menurunkan konsentrasi, sehingga meningkatkan potensi kecelakaan lalu lintas akibat kelelahan. Maka dari itu, penting bagi pengendara memahami cara mengatasi microsleep saat puasa agar perjalanan tetap aman, fokus, dan selamat sampai tujuan. Menurut Marcell RDC Kurniawan, Training Director dari Real Driving Centre, manajemen waktu tidur yang baik menjadi kunci untuk menjaga fokus dan keselamatan di jalan. Mengenali gejala microsleep saat mengemudi dan bahaya yang mengintai. "Ketika waktu tidur berkurang akibat sahur, tubuh mengalami perubahan pada siklus alami tidur. Jadi, penting untuk mengatur pola istirahat yang cukup, seperti tidur lebih awal dan memanfaatkan waktu istirahat siang untuk power nap," kata Marcell kepada Kompas.com, belum lama ini. Marcell mengingatkan pengemudi agar tidak mengonsumsi kafein secara berlebihan pada malam hari karena dapat menurunkan kualitas tidur dan berdampak pada konsentrasi saat berkendara di bulan Ramadhan. Ia juga menyarankan pengendara untuk segera menepi dan beristirahat sejenak jika mulai merasa lelah, mengantuk, atau kehilangan fokus demi menjaga keselamatan selama perjalanan. "Jangan memaksakan keadaan, kalau memang mengantuk, wajib berhenti buat istirahat," katanya. Dengan manajemen waktu tidur yang baik serta kewaspadaan terhadap tanda-tanda microsleep saat berkendara, risiko kecelakaan akibat kelelahan selama menjalankan ibadah puasa dapat diminimalkan sehingga perjalanan tetap aman dan nyaman. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang