Puncak mobilitas masyarakat pada libur Natal dan Tahun Baru atau Nataru 2025/26 membuat perjalanan jarak jauh tak terhindarkan. Di tengah padatnya arus lalu lintas, risiko microsleep menjadi salah satu ancaman serius yang kerap luput disadari pengemudi. Kondisi ini disebabkan otak 'tertidur' selama beberapa detik tanpa disadari. Dampaknya fatal karena dalam waktu tiga detik, mobil yang melaju dengan kecepatan 100 kilometer per jam dapat meluncur tanpa kendali hingga 80 meter. Mengenali gejala microsleep saat mengemudi dan bahaya yang mengintai. Training Director Real Driving Centre (RDC), Marcell Kurniawan, mengatakan microsleep umumnya dipicu oleh kebiasaan mengemudi monoton dalam waktu lama tanpa antisipasi yang memadai. “Kebanyakan pengendara tidak berpikir panjang dan tidak melakukan antisipasi. Padahal, seharusnya pengemudi membangun kebiasaan untuk mengidentifikasi, mengantisipasi, dan menghindari setiap potensi bahaya,” ujar Marcell kepada Kompas.com belum lama ini. Menurutnya, kondisi fisik dan mental pengemudi harus dijaga sejak awal perjalanan hingga tiba di tujuan. Rasa lelah yang dibiarkan berlarut-larut dapat menurunkan kewaspadaan secara drastis. “Sebaiknya ada pengemudi pengganti, tidak memaksakan diri, tidur cukup sebelum berangkat, serta beristirahat minimal setiap dua jam selama perjalanan,” kata Marcell. Hal senada disampaikan Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, di mana microsleep tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui beberapa tahapan kelelahan. Ilustrasi apa itu microsleep, gejala microsleep, penyebab microsleep, cara mencegah microsleep “Biasanya di tiga sampai empat jam pertama pengemudi mulai letih. Kalau diteruskan, masuk ke fase ngantuk berat. Di titik inilah microsleep terjadi,” ujar Sony. Sony menjelaskan, posisi duduk yang statis dalam waktu lama mempercepat terjadinya microsleep karena otak kehilangan rangsangan dan kemampuan merespons dengan baik. “Ada perbedaan antara mengantuk dan microsleep. Saat mengantuk, yang ‘tidur’ mata. Tapi saat microsleep, yang tidur adalah otaknya,” ucap Sony. Untuk mencegah kondisi tersebut, Sony menyarankan pengemudi memastikan waktu tidur enam hingga delapan jam sebelum perjalanan. Selain itu, waktu mengemudi sebaiknya dibatasi maksimal tiga jam sebelum berhenti untuk beristirahat. “Di rest area, lakukan aktivitas ringan untuk menyegarkan otot, saraf, dan otak. Luangkan waktu minimal 15 menit, atau lebih jika memang sudah sangat lelah,” kata Sony. Jika rasa kantuk sudah berat, tidur singkat selama 30 hingga 60 menit dinilai jauh lebih aman dibanding memaksakan diri melanjutkan perjalanan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang