Menggunakan mobil pribadi saat melakukan perjalanan jarak jauh, termasuk ketika mudik Lebaran punya beberapa keunggulan. Pemudik lebih fleksibel dan bisa membawa lebih banyak barang serta berhenti kapan saja selama perjalanan. Namun berkendara jarak jauh membutuhkan persiapan yang matang. Bukan hanya kondisi mobil tetap juga fisik pengemudi itu sendiri. Salah satu risiko yang kerap mengintai pengemudi saat perjalanan panjang adalah microsleep. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tertidur sesaat tanpa disadari, meskipun pengemudi masih berada di belakang kemudi. Kecelakaan lalu lintas melibatkan mobil sedan terjadi di ruas Tol Jagorawi arah Bogor, tepatnya di Km 24, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (7/2/2026) sore. Kecelakaan yang dialami Diva Siregar membuka mata tentang bahaya microsleep, tidur singkat yang kerap tak disadari saat mengemudi. Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting Jusri Pulubuhu mengatakan, microsleep bisa terjadi ketika pengemudi berada dalam kondisi berkendara yang monoton atau stagnan. “Bisa karena lintasan jalan yang lurus terus, momen kemacetan sehingga kendaraan stop and go. Semua bisa terjadi. Solusinya adalah membuat otak untuk terus bekerja," kata Jusri, kepada Kompas.com, belum lama ini. Pengemudi bosan Menurut Jusri, kondisi jalan yang monoton membuat pengemudi mudah merasa bosan. Dalam situasi tersebut, pengemudi biasanya hanya melihat kondisi jalan tanpa benar-benar membaca situasi di sekitarnya. Akibatnya, otak tidak mendapatkan stimulus untuk tetap aktif sehingga risiko microsleep menjadi lebih besar. Seorang petugas polisi lalu lintas sedang mengamankan lokasi kecelakaan tunggal di ruas Tol Jagorawi, tepatnya di putaran Adipura arah Terminal Baranangsiang, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/11/2024). Sebagai contoh, ketika pengemudi melihat pejalan kaki di pinggir jalan. Jika otak bekerja secara aktif, pengemudi tidak hanya sekadar melihat, tetapi juga langsung memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi. “Sebagai contoh, pengemudi melihat ada pejalan kaki. Bila otak terstimulus bekerja, pengemudi tidak hanya melihat pejalan kaki tersebut, tapi melakukan langkah antisipasi bila pejalan kaki tersebut tiba-tiba menyeberang. Maka itu, sejak dini dia akan memperlambat lajunya atau membunyikan klakson,” kata dia. Karena itu, pengemudi disarankan tidak hanya sekadar melihat kondisi jalan, tetapi juga membaca situasi yang ada di sekitar kendaraan. Jika pengemudi hanya melihat tanpa melakukan antisipasi, maka otak tidak terstimulasi untuk tetap aktif bekerja. “Sama seperti saat pengemudi melewati polisi tidur dengan kecepatan tinggi, itu artinya dia sekadar melihat karena polisi tidur tidak datang tiba-tiba,” kata dia. Mengatur kaca spion mobil Xpander Cross Lihat kaca spion Selain terus membaca situasi jalan, Jusri juga menyarankan pengemudi untuk rutin memeriksa kondisi di sekitar kendaraan melalui kaca spion. Kebiasaan ini dapat membantu menjaga otak tetap aktif sekaligus meningkatkan kewaspadaan selama berkendara. Jusri menyarankan agar pengemudi memiliki pola melihat kaca spion secara berkala dengan siklus sekitar lima hingga delapan detik. “Selain untuk mengetahui kondisi di sekitar kendaraannya, terutama bila kendaraan tiba-tiba berhenti, pengemudi harus tahu selain kondisi di depan kendaraan karena bahaya juga dapat datang dari sisi belakang kendaraan,” ucapnya. Karena itu, saat melakukan perjalanan mudik Lebaran dengan mobil pribadi, pengemudi perlu memastikan kondisi tubuh tetap prima, menjaga konsentrasi, serta terus membaca situasi jalan agar terhindar dari risiko microsleep selama perjalanan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang