Perjalanan mudik biasanya identik dengan deru mesin dan antrean panjang di SPBU. Namun, bagi sebagian pemudik tahun ini, suasananya sedikit berbeda. Tidak ada suara mesin yang bising, dan jeda perjalanan bukan lagi untuk mengisi bensin, melainkan mengisi daya baterai. Perlahan, mobil listrik mulai mengambil peran dalam perjalanan jarak jauh, termasuk untuk mudik Lebaran. Sahil, menjadi salah satu pemudik yang turut merasakan sensasi pulang ke kampung halaman menggunakan mobil listrik. Ia menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Solo pada 18 Maret 2026 menggunakan Maxus Mifa 9. Berangkat sejak pagi, perjalanan berlangsung relatif lancar tanpa kendala berarti, terutama soal pengisian daya. “Tidak ada kendala mengisi daya mobil karena SPKLU tersebar di semua rest area dan banyak yang ultra fast charging,” ujar Sahil, kepada Kompas.com, Kamis (19/3/2025). Ia sempat berhenti dua kali untuk mengisi daya, masing-masing di rest area KM 130 dengan ultra fast charging 200 kWh dan di KM 429 Semarang dengan daya 50 kWh. “Dua-duanya hanya butuh waktu 30-40 menit untuk isi daya dari 30 persen sampai 97 persen. Masing-masing biayanya Rp 188.000 dan Rp 185.000,” kata dia. Bagi dia, salah satu perbedaan paling terasa dibanding mobil konvensional adalah efisiensi biaya yang lebih hemat. BYD Atto 1 menjajal jalanan Bandung-Garut. Cerita lain datang dari Agus Hery yang menggunakan BYD Atto 1 tipe Dynamic. Dengan daya jelajah sekitar 300 km, ia berangkat dari Bandung menuju Kebumen sehari lebih awal, yakni 17 Maret 2026. Perjalanan yang ditempuh ternyata masih berada dalam jangkauan baterai, sehingga ia tidak perlu terburu-buru mencari tempat pengisian daya. “Saya menggunakan BYD Atto 1 tipe dynamic yang jangkauan baterainya 300 km kondisi penuh. Berangkat hari Selasa 17 Maret lalu dari Bandung menuju Kebumen. Karena jangkauan tujuan di bawah 300 km, beberapa kali sempat berhenti untuk cek SPKLU seperti di Malangbong dan Wangon, dan sepi, belum ketemu EV yang berhenti ngecharge,” ujarnya. Ia baru mengisi daya setelah tiba di tujuan. “Jadi bisa dibilang tidak ada kendala sama sekali hingga saat ini. Dari posisi Pasteur Bandung sampai ke Lebak Bulus Jakarta Selatan hanya 120 km, jadi hanya menggunakan setengah kapasitas baterai,” kata Agus. Sementara itu, pengalaman yang lebih panjang dirasakan Satrio. Ia melakukan perjalanan lintas pulau dari Depok menuju Pekanbaru pada 16 Maret 2026 malam menggunakan BYD Sealion 7. Perjalanan ini tidak hanya soal jarak, tetapi juga soal keyakinan, mengingat belum banyak pengguna kendaraan listrik yang berani melintasi Sumatera. “Mudik 16 Maret malam ke Pekanbaru. Untuk kendala, tidak ada, fine-fine saja. Karena kayaknya pengguna mobil listrik masih banyak yang ragu ya bawa ke area Sumatera,” ujarnya. Ia tiba pada 18 Maret malam, setelah beberapa kali berhenti, termasuk transit cukup lama di Linggau. Meski menempuh perjalanan panjang, ia hanya perlu mengisi daya tiga kali, yakni di Kayu Agung, Linggau, dan Muara Bungo. BYD Sealion 7 “Tidak ada kendala, semua smooth. Dari sisi aplikasi juga tumben tidak nge-lag. Hanya tiga kali isi daya, biayanya total sekitar Rp 550.000,” kata dia. Di luar aspek teknis, ada pengalaman lain yang justru membekas selama perjalanan. “Banyak orang di daerah yang belum aware banget sama mobil listrik jadi banyak yang penasaran cara kerjanya gimana,” ujar Satrio. Dari berbagai cerita tersebut, perjalanan mudik dengan mobil listrik memang masih menghadirkan pengalaman yang berbeda. Namun, dengan semakin banyaknya SPKLU di rest area dan jalur utama, kekhawatiran soal jarak tempuh perlahan mulai terjawab. Mudik dengan mobil listrik pun bukan lagi sekadar wacana, melainkan pengalaman nyata yang mulai dijalani para penggunanya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang