Perdebatan soal biaya mudik menggunakan mobil listrik dan mobil berbahan bakar bensin (ICE) masih kerap menjadi pertanyaan. Namun, pengalaman langsung para pengguna menunjukkan gambaran yang semakin jelas. Sejumlah pemudik yang menggunakan mobil listrik saat Lebaran 2026 mengaku bisa menekan biaya perjalanan hingga lebih dari separuh dibandingkan mobil konvensional. Rifgie, pengguna Wuling Darion EV, membagikan pengalamannya saat mudik dari Banyuwangi Kota menuju Malang pada 17 Maret 2026. “Saya berangkat menggunakan armada Wuling Darion EV. Berangkat tanggal 17 Maret pagi dari Banyuwangi Kota, tiba siang hari di Malang,” ujarnya. Awalnya, Rifgie sempat khawatir soal ketersediaan pengisian daya di jalur perjalanan. Namun, kekhawatiran itu terjawab setelah mengecek melalui aplikasi PLN Mobile. “Ternyata setelah check di aplikasi PLN Mobile, hampir sepanjang rest area di tol ada SPKLU. Kebetulan saya isi daya di rest area Probolinggo Km 334 (kalau tidak salah). Tidak ada antrian pengisian, dan ada petugas SPKLU yang standby juga sigap membantu,” kata dia. Setibanya di Malang, Rifgie juga tidak mengalami kendala meski tidak memiliki fasilitas home charging. BYD Atto 1 menjajal jalanan Bandung-Garut. “Dan kebetulan di rumah Malang tidak ada home charging, jadi saya mengisi ke SPKLU, pilihan di Malang Kota juga terjangkau. Saya mengisi di PLN pusat, unitnya banyak dan ada beberapa pilihan termasuk super fast charging. Saat itu juga kosong hanya 1-2 unit saja yang mengisi,” ujarnya. Dari sisi biaya, ia mengaku sangat terkesan dengan efisiensi mobil listrik. “So far sebagai pengalaman pertama mudik menggunakan EV saya bahagia sih, karena dari segi biaya transportasi super irit. Total biaya Rp 57.045 kak. Berangkat kondisi 73 persen, kami mengisi 1x posisi baterai 24 persen,” kata Rifgie. Ia membandingkan dengan kendaraan yang biasa digunakan sebelumnya. “Biasanya kami mudik menggunakan Toyota Innova Zenix Hybrid mengeluarkan biaya bensin sekitar Rp 300.000,” ujarnya. Pengalaman serupa juga dirasakan Agus, pengguna BYD Atto 1, yang melakukan perjalanan dari Bandung menuju Kebumen. “Saya dari Bandung baterai penuh sampai Kebumen tanpa perlu mengisi daya di tengah perjalanan. Di Kebumen saya baru perlu mengisinya. Dari 11 persen menuju 92 persen dengan biaya Rp 72.000 untuk kebutuhan 27 kWh,” kata Agus. Jika dibandingkan dengan mobil berbahan bakar bensin, maka selisih biayanya cukup signifikan. “Jika dibandingkan dengan ICE, yang butuh sekali perjalanan Bandung - Kebumen membutuhkan biaya bensin Rp 200.000 sekali perjalanan, maka ini pengiritan hingga lebih setengahnya,” ujarnya. Tidak hanya itu, Agus juga menyoroti biaya perawatan yang lebih rendah pada mobil listrik. “Lalu biaya lain seperti ganti oli dan filter yang biasanya dilakukan usai perjalanan panjang mudik senilai kurang lebih Rp 400.000,” kata dia. Dari dua pengalaman tersebut, terlihat bahwa mobil listrik menawarkan keunggulan dari sisi efisiensi biaya, baik untuk energi maupun perawatan. Meski demikian, kesiapan infrastruktur seperti SPKLU dan perencanaan perjalanan tetap menjadi faktor penting. Bagi pemudik, pilihan antara mobil listrik atau bensin pada akhirnya kembali pada kebutuhan dan kesiapan masing-masing. Namun, mobil listrik menunjukkan keunggulan dari sisi biaya yang dikeluarkan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang