Memasuki bulan Ramadhan, aktivitas berkendara membutuhkan perhatian lebih. Kondisi tubuh yang menahan lapar dan haus seharian membuat stamina tidak seprima hari biasa. Untuk itu, pengendara perlu menyesuaikan ritme berkendara agar tetap aman dan tidak memaksakan diri. Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia, Sony Susmana, mengatakan, berkendara saat puasa perlu menghemat tenaga. Kurangi aktivitas berat yang menguras fisik dan berpikir stress. Ilustrasi mengemudi "Jika memungkinkan, hindari kemacetan. Jangan lupa selalu melatih diri untuk bersabar, bertoleransi dalam menghadapi pengguna jalan lain," ujar Sony, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. "Jika harus berhenti untuk berbuka puasa, pastikan dulu di tempat parkir yang resmi. Jangan sembarangan di pinggir jalan, walaupun sudah keluar badan jalan bkn berarti aman, potensi tertabrak masih ada," kata Sony. Sony menyarankan, untuk berbuka puasa, makanannya tidak perlu berlebihan. Sebab, sifatnya hanya membatalkan saja. Ilustrasi kemacetan Jakarta "Untuk jenis makanan bebas, yang penting tidak banyak, tidak merangsang, tidak basah, dan tidak bertentangan dengan penyakit bawaan," ujarnya. Kemudian, menurut Sony, proses buka puasa bukan hanya bicara sebentar, asal membatalkan atau ritual semata, dan lain-lain. Tapi, benar-benar sesuai dengan kaidah kesehatan, asupan yang sesuai, kehati-hatian, dan keselamatan atau ruang yang aman. "Selanjutnya, jika kedua prosesi tersebut sudah dilakukan dengan benar, maka perjalanan berikutnya pasti benar juga, hal ini yang hrs diperhatikan," kata Sony. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang