Berbuka puasa di pinggir jalan biasanya menjadi pilihan pengemudi yang masih berada di perjalanan saat azan maghrib berkumandang. Namun, keputusan berhenti mendadak tanpa mempertimbangkan aspek keselamatan bisa meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Kondisi lalu lintas yang padat serta visibilitas yang menurun saat senja membuat potensi bahaya semakin besar. Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia, Sony Susmana, mengatakan, banyak pengguna jalan mengalami kejadian kecelakaan karena lalai terhadap cara berpikir yang aman. Situasi Jalan Pemuda depan Sekolah Labschool Rawamangun padat, karena sejumlah kendaran parkir di pinggir jalan, Rabu (24/9/2025) Sony juga mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan akan berkendara tetap aman ketika harus berbuka di pinggir jalan. “Pertama, jika harus berhenti pastikan dulu di tempat parkir yang resmi, jangan sembarangan di pinggir jalan. Walaupun sudah keluar badan jalan bukan berarti aman, potensi tertabrak masih besar, Jadi tempat berhenti yang aman itu tiga meter ke luar badan jalan, terang, flat, keras alasnya dan berpetugas,” kata Sony kepada Kompas.com, Kamis (19/2/2026). Selanjutnya, jika seluruh prosedur tersebut dilakukan dengan benar, maka perjalanan berikutnya akan lebih aman dan terkendali. Hal inilah yang harus benar-benar diperhatikan oleh setiap pengemudi. “Yang kedua, menurut saya proses buka puasa bukan hanya bicara "sebentar", asal batalin atau ritual semata dan lain-lain, tapi benar- benar sesuai dengan kaidah kesehatan (asupan yang sesuai), kehati-hatian, dan keselamatan (ruang yang aman),” kata Sony. Dengan menerapkan prinsip berhenti di lokasi yang aman serta berbuka secara bijak dan tidak tergesa-gesa, pengemudi dapat meminimalkan risiko kecelakaan dan memastikan perjalanan tetap aman hingga tiba di tujuan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang