Pemerintah Kota Bandung menetapkan tahun 2026 sebagai momentum percepatan pembangunan infrastruktur, dengan fokus pada pembenahan sistem transportasi umum melalui pengembangan Bus Rapid Transit (BRT) serta peremajaan angkutan kota (angkot) berbasis listrik. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, program ini diharapkan mampu menjadi tulang punggung transportasi massal di Kota Bandung. “Untuk BRT, kami mendapat dukungan penuh dari Kementerian Perhubungan. Ini akan menjadi solusi transportasi publik yang lebih modern dan terintegrasi,” katanya dikutip dari keterangan resmi, Jumat (24/4/2026). Selain BRT, Pemkot Bandung juga akan meremajakan angkot secara bertahap dengan mengadopsi teknologi kendaraan listrik. Transformasi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kenyamanan dan efisiensi layanan, tetapi juga mendukung pengurangan emisi dan penciptaan lingkungan yang lebih bersih. “Angkot akan kita dorong beralih ke sistem listrik. Ini bagian dari transformasi transportasi yang ramah lingkungan,” kata Farhan. Situasi pada halte Trans Metro Bandung yang berada di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (7/3/2026). Farhan mengakui, masih terdapat sejumlah tantangan dalam pelaksanaan program tersebut, namun optimistis dapat diselesaikan secara bertahap. Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot Bandung berharap dapat meningkatkan kualitas layanan transportasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui konektivitas yang lebih baik. Langkah ini juga menjadi bagian dari komitmen jangka panjang dalam mewujudkan sistem transportasi yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan di Kota Bandung. “Kita sadar ada banyak tantangan, tetapi yang penting pekerjaan berjalan dan bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat,” tambahnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang