Mengebut dengan mobil listrik (BEV) dapat membuat konsumsi energi menjadi lebih boros karena beberapa faktor teknis yang berkaitan dengan cara kerja motor listrik dan hambatan kendaraan saat melaju cepat. Jayan Sentanuhady, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan pengendara yang suka memacu mobil listrik dengan kecepatan tinggi akan lebih boros daya listrik, meski waktu tempuh lebih singkat. “Konsumsi daya listrik pada BEV paling besar terjadi ketika awal jalan, selain beban awak untuk menggerakkan mobil berat, butuh daya lebih, gas pol juga akan menguras daya lebih banyak,” ucap Jayan kepada KOMPAS.com, Jumat (6/3/2026). Kebiasaan berkendara agresif pada mobil listrik cukup menyenangkan karena punya torsi instan. Karakteristik yang berbeda dengan mobil konvensional ini jangan sampai membuat pengemudi terlena. “Pada saat pengemudi memacu BEV dengan agresif, kecepatan tinggi, konsumsi daya listrik terjadi lebih banyak. Dampaknya, jarak tempuh totalnya bisa lebih pendek,” ucap Jayan. Seperti yang diketahui, mobil listrik tak butuh BBM, tapi tetap butuh daya listrik. Sementara penampungan daya tersebut ada pada baterai, yang setiap model punya kapasitas masing-masing dan terbatas. Ilustrasi baterai mobil listrik Saat pengemudi sering melakukan akselerasi mendadak, motor listrik langsung mengeluarkan torsi besar. Torsi instan ini memang menjadi keunggulan mobil listrik, tetapi jika sering digunakan secara agresif akan membuat konsumsi energi meningkat. “Boros karena digeber, tapi waktu tempuhnya bisa lebih cepat dengan total jarak tempuh sama, bedanya di kemampuan jelajahnya,” ucap Jayan. Jarak tempuh merupakan jarak dalam hitungan kilometer dari titik A sampai titik B. Sementara kemampuan jelajah adalah kemampuan kendaraan untuk mencapai jarak tertentu, tergantung sisa daya baterai. Arus lalu lintas di Km 47 ruas jalan tol Jakarta - Cikampek, Rabu (24/12/2025) siang. “Misal klaim dari pabrikan suatu BEV diklaim bisa menempuh jarak 500 kilometer dalam sekali pengecasan, tapi faktanya hanya 300 kilometer atau dibawahnya, ini akan memberikan kesan boros,” ucap Jayan. Ternyata, hal ini tidak langsung berkaitan dengan adanya kesalahan produk atau kendala. Tapi, boros tersebut juga berkaitan erat dengan cara pemakaian. Bahkan, tak semua pabrikan mengukur konsumsi daya listrik dengan kondisi nyata. Jayan mengatakan, metoda pengujian pabrik, seperti WLTP, EPA, NEDC, dan sejenisnya menggunakan standar sendiri dan berbeda dengan kondisi nyata. Test drive BYD M6. “Contoh, pengujian standar pabrik umumnya pada suhu udara relatif stabil antara 23-25 derajat Celcius, jalan datar, akselerasi halus, kecepatan rata-rata konstan, penumpang hanya driver saja atau dengan 1 penumpang, hasilnya tentu sangat irit,” ucap Jayan. Sedangkan pada kondisi nyata, mobil bisa saja diisi oleh penumpang penuh, kondisi jalan macet dan kebiasaan pengemudi yang cenderung suka main gas. Selain itu, kebiasaan menyetel air conditioner (AC) terlalu dingin, atau dipakai di cuaca panas bisa membuat beban kerja AC meningkat. “Komponen AC mobil listrik akan membebani baterai, sehingga daya listrik akan terus terkuras selama AC hidup, makin dingin target yang harus dicapai, beban kerjanya makin berat,” ucap Jayan. Pada kecepatan tinggi, motor membutuhkan daya listrik yang lebih besar. Walaupun terkenal efisien, kebutuhan tenaga untuk mendorong mobil tetap meningkat seiring bertambahnya kecepatan. Akibatnya arus listrik yang ditarik dari baterai menjadi lebih besar. Karena itu, mengemudi dengan kecepatan stabil dan tidak terlalu tinggi menjadi cara terbaik untuk menjaga efisiensi energi mobil listrik. Gaya berkendara yang halus dan terkontrol dapat membantu baterai bertahan lebih lama selama perjalanan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang