Sepintas, mobil dengan kapasitas silinder (CC) lebih besar cenderung lebih boros. Hal ini bisa ditelaah secara logis dari jumlah udara dan bahan bakar dalam sekali siklus pembakaran. Semakin banyak jumlah silindernya juga akan membutuhkan udara dan BBM lebih banyak. Namun, benarkah perhitungannya sesederhana itu? Hari, pemilik bengkel mobil Juna Speed Klaten mengatakan anggapan tersebut tidak berlaku pada mobil-mobil modern dengan sistem bahan bakar lebih canggih. “Kalau di mobil jadul, dengan sistem karburasi, masih relevan karena jumlah BBM sangat identik dengan banyaknya udara yang tersedot ke ruang bakar, tapi kalau injeksi kan sudah diatur oleh sistem (ECU),” ucap Hari kepada KOMPAS.com, Minggu (16/11/2025). Saat mesin injeksi menyedot udara, BBM tidak langsung tersedot melainkan diinjeksikan terpisah. Jumlah dan waktunya diatur sedemikian rupa berdasarkan kebutuhan. “Banyaknya BBM yang diinjeksikan, lama waktu penginjeksian, dan kapan waktunya diatur oleh ECU, dia dapat masukan dari beberapa sensor, jadi lebih terukur dan efisien,” ucap Hari. Mesin 1.500 cc 4 silinder VTEC pada Jazz GD3 Eko Setiawan, pemilik bengkel mobil Everest Motors Bintaro, Tangerang Selatan mengatakan mobil dengan CC besar memiliki tujuan untuk mendongkrak tenaga, salah satunya dengan memperbanyak jumlah BBM yang terbakar. “Semakin besar CC, makin banyak udara dan bensin yang dibakar dalam setiap siklus, tenaga dan torsi lebih besar, mesin besar dirancang untuk performa lebih tinggi, sehingga pemakaian BBM mengikuti kemampuan mesin,” ucap Eko kepada KOMPAS.com, Minggu (16/11/2025). Mobil bermesin besar biasa dijumpai pada mobil-mobil besar seperti MPV premium dan SUV. Artinya, bobot kendaraan lebih berat juga, sehingga itu semua menjadi bahan perhitungan. “Mobil bermesin besar umumnya memiliki bodi lebih besar dan fitur lebih banyak, sehingga butuh energi lebih untuk bergerak,” ucap Eko. Ilustrasi speedometer sebagai salah satu alat ukur GLB dan GLBB Namun, CC tidak selalu menentukan konsumsi BBM-nya. Banyak kasus mobil CC besar lebih irit daripada mobil CC kecil karena faktor lain. “Teknologi mesin akan menentukan, seperti turbocharger, direct injection, variable valve timing (VVT-I), stop-start system, dan lainnya,” ucap Eko. Sehingga, mesin modern 1.500 CC turbo, bisa saja lebih irit daripada mesin tua 1300 CC tanpa teknologi tersebut. Menurut Eko, mobil CC kecil kadang lebih boros saat membawa beban berat atau menanjak, karena mesin bekerja lebih keras, Rpm cenderung lebih tinggi. “Sementara mesin besar cenderung pakai Rpm rendah cukup bertenaga untuk muatan berat, sehingga jarak yang ditempuh bisa lebih jauh,” ucap Eko. Daihatsu Rocky Facelift Faktor penentu keiritan konsumsi BBM sebenarnya bukan hanya kapasitas mesin, tapi angka efisiensi. Semakin efisien sebuah mesin, maka bisa semakin irit. “Maka dari itu sekarang banyak mobil kecil, mesin kecil, dilengkapi turbocharger, karena mengejar tenaga besar namun bobotnya lebih ringan, sehingga jauh lebih efisien,” ucap Eko. Hardi Wibowo, pemilik bengkel Spesialis Nissan - Honda Yogyakarta mengatakan, mobil modern dilengkapi transmisi lebih efisien seperti continuously variable transmission (CVT). Tuas transmisi mobil Toyota matik CVT “Teknologi ini mampu membuat mobil selalu mengubah rasio putaran mesin dan roda penggerak secara terus menerus, dan cenderung mencapai putaran output optimal dengan putaran mesin rendah,” ucap Hardi kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Kondisi tersebut bisa tercapai ketika mobil melaju konstan, seperti di jalan tol. Sehingga, konsumsi BBM dapat terkonversi menjadi jarak tempuh dengan optimal. Jadi, semakin besar CC mesin mobil tidak mutlak akan membuat mobil makin boros BBM. Justru semakin banyak BBM yang terbakar diharapkan bisa mendongkrak tenaga, hingga dapat mencapai jarak tempuh lebih panjang tiap liternya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.