Beberapa waktu lalu, isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mencuat seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kondisi tersebut kemudian memicu kekhawatiran masyarakat terhadap potensi lonjakan harga energi, termasuk BBM di dalam negeri. Situasi tersebut berdampak pada meningkatnya rasa ingin tahu masyarakat terhadap kendaraan listrik, termasuk mobil listrik Polytron G3. Commercial Director Polytron, Tekno Wibowo, mengatakan bahwa memang ada peningkatan minat, meski belum signifikan ke arah pembelian. Polytron G3+ "Ada cuman ya ini kan pilihannya sekarang banyak ya. Jadi mungkin kenaikannya itu lebih ke arah orang yang bertanya-tanya lah. Mencari lebih banyak informasi gitu," katanya di Jakarta, belum lama ini. Menurut Tekno, kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai mempertimbangkan alternatif kendaraan yang lebih hemat energi, namun masih dalam tahap penjajakan. Tekno mengatakan, meski dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk persaingan yang semakin ketat, Polytron tetap optimistis dengan prospek pasar mobil listrik di Indonesia. "Nah, tahun ini kita mungkin bisa 700 unit sampai 800 unit," ujar Tekno. Polytron G3+ Sebagai gambaran, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), distribusi wholesales Polytron sepanjang 2025 mencapai 455 unit. Angka tersebut berasal dari dua varian, yakni G3+ sebanyak 282 unit dan G3 sebanyak 173 unit. Meski tergolong pemain baru di industri otomotif, Polytron mengusung pendekatan yang realistis dan adaptif dalam mengembangkan bisnis mobil listriknya. Jika melihat performa tahun lalu, meski baru mulai memasarkan produknya pada semester kedua 2025, Polytron mampu menembus daftar 25 besar penjualan nasional. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang