Pasar motor listrik di Indonesia semakin ramai dengan berbagai pilihan model dan skema kepemilikan. Dua nama yang menyita perhatian saat saya tes adalah Polytron Fox 350 dan Indomobil Emotor Sprinto. Menariknya, kedua motor ini menyajikan pendekatan yang berbeda, baik dari segi harga awal, skema baterai, hingga efisiensi dayanya. Fox 350 hadir sebagai skuter maksi listrik dengan harga Rp 16,5 juta berkat sistem sewa baterai, sedangkan Sprinto dibanderol Rp 25,75 juta dengan status baterai hak milik. Lantas, jika diadu secara riil di jalanan perkotaan, mana yang sebenarnya lebih menghemat kantong konsumen? Adu Irit Bicara soal efisiensi, bobot bodi dan spesifikasi motor penggerak sangat menentukan performa konsumsi daya. Berdasarkan hasil pengujian langsung yang saya lakukan, Sprinto mencatatkan angka efisiensi yang sangat impresif. Saat kondisi jalan lancar, Sprinto hanya menghabiskan daya sebesar 22,14 Wh/km, sementara saat bertemu kemacetan khas Jakarta, konsumsinya naik ke angka 29,4 Wh/km. Jika dirata-rata, Sprinto membutuhkan sekitar 2,57 kWh untuk menempuh jarak 100 km. Mengacu pada tarif listrik PLN rumah tangga (Rp 1.444 per kWh), biaya jalan Sprinto hanya berkisar Rp 3.711 per 100 km. Di sisi lain, Polytron Fox 350 yang punya bodi bongsor dan dinamo 3.000 Watt mencatatkan konsumsi energi berkisar antara 25,6 Wh/km hingga 33,8 Wh/km, tergantung kontur jalan dan gaya berkendara. Berarti, Fox 350 rata-rata membutuhkan sekitar 2,97 kWh untuk jarak 100 km, atau setara dengan Rp 4.288 per 100 km. Secara efisiensi energi murni per kilometer, Sprinto memang terbukti sedikit lebih hemat daya ketimbang Fox 350 berkat dimensinya yang ringkas untuk kebutuhan stop-and-go. Polytron Fox 350 Simulasi Biaya Bulanan Namun, kalkulasi hemat tidak berhenti di biaya cas listrik saja. Konsumen wajib memperhitungkan skema kepemilikan baterai yang diusung kedua pabrikan ini. Polytron Fox 350 menawarkan modal awal yang sangat murah di angka Rp 16,5 juta, namun konsumen dibebankan biaya sewa baterai flat sebesar Rp 200.000 setiap bulannya. Artinya, mau motor dipakai jauh atau sekadar diparkir di garasi, biaya tetap ini wajib dibayarkan. Sebaliknya, Emotor Sprinto mengusung sistem "beli putus". Dengan harga Rp 25,75 juta, baterai Lithium berkapasitas 2,45 kWh sudah sepenuhnya milik konsumen. Setelah membeli, pengeluaran bulanan murni hanya dari token listrik saat mengecas. Jika mau menggunakannya untuk rute komuter pendek (misal 500 km per bulan), total pengeluaran bulanan Sprinto hanya sekitar Rp 20.000 untuk listrik. Sementara Fox 350 akan memakan biaya sekitar Rp 227.000 (biaya cas + sewa baterai). Skenario ini membuat Sprinto jauh lebih ekonomis untuk penggunaan harian jarak dekat-menengah. Polytron Fox 350 Kelebihan dan Kekurangan Polytron Fox 350 Bagi yang melirik Fox 350, motor listrik bongsor ini punya nilai plus pada biaya beli awal yang sangat terjangkau dengan selisih hampir Rp 9,25 juta lebih murah dari kompetitornya. Ditambah lagi, skema sewa baterai memberikan garansi seumur hidup. Pengguna tidak perlu takut atau mengalokasikan dana belasan juta Rupiah jika suatu saat performa baterai menurun (degradasi), karena tinggal ditukar baru di diler secara gratis. Desainnya yang besar juga menyajikan posisi berkendara yang rileks untuk jarak jauh, serta didukung tenaga yang andal di tanjakan. Namun minusnya, ada beban tagihan bulanan yang mengikat. Selain itu, dimensinya yang lebar membuat motor ini terasa kurang lincah saat harus selap-selip membelah kemacetan padat kota urban. Indomobil Emotor Sprinto Kelebihan dan Kekurangan Indomobil Emotor Sprinto Beralih ke Indomobil Emotor Sprinto, nilai plus utamanya jelas berada pada ketenangan finansial jangka panjang. Bebas dari biaya sewa bulanan berarti pengeluaran operasional bisa ditekan sekecil mungkin. Secara impresi berkendara, Sprinto terasa sangat matang. Penggunaan roda berdiameter 14 inci dipadukan suspensi yang kokoh membuat bantingannya solid dan lincah saat melibas jalan bergelombang. Fiturnya juga canggih, ada layar sentuh di dasbor dengan G-Force meter hingga konektivitas Android Auto untuk navigasi. Kekurangannya, harga tebus awal memang terasa cukup tinggi karena sudah termasuk baterai. Risiko lainnya, jika masa garansi pabrik habis setelah beberapa tahun dan terjadi degradasi performa, konsumen harus siap merogoh kocek mandiri untuk penggantian baterai baru. Catatan lainnya dari hasil pengujian kami, sistem peta pintar pada dasbornya kadang mendeteksi motor sebagai mobil di Google Maps, sehingga pengendara harus jeli menyalakan opsi "hindari jalan tol" secara manual. Penyaluran dayanya dari posisi diam juga tergolong linear dan sangat halus, kurang responsif instan bagi pengendara yang menyukai akselerasi agresif. Kesimpulan Menentukan mana yang lebih hemat kembali pada profil berkendara. Jika mencari motor listrik untuk perkotaan dengan rute pendek di bawah 30 km per hari dan mencari ketenangan tanpa tagihan bulanan berjalan, Sprinto adalah investasi yang tepat meski modal awalnya lebih besar. Namun, jika ingin memangkas budget pembelian di awal, sering menempuh jarak jauh antarkota, dan ingin jaminan baterai bebas pusing seumur hidup, skema sewa baterai dari Fox 350 adalah opsi menarik yang sulit ditolak. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang