Selain membawa perubahan pada sisi desain, Polytron Fox 350 juga dilengkapi dengan berbagai fitur yang lebih lengkap dibanding pendahulunya, Fox R. Fitur-fitur ini dirancang untuk menjawab kebutuhan komuter yang kerap menemui berbagai kondisi jalan di perkotaan. Sektor lampu menjadi poin pertama yang patut dibahas. Lampu utama Fox 350 kini memberikan intensitas cahaya yang saya rasa lebih terang dan tajam dibandingkan model sebelumnya. Polytron Fox 350 Hal ini tentu meningkatkan rasa percaya diri saat berkendara di malam hari. Namun, untuk lampu belakang, tampilannya terasa tidak banyak berubah. Saat dilihat pada siang hari yang terik, pendaran lampunya cenderung terasa kurang maksimal atau agak redup. Sebuah detail yang mungkin bisa menjadi catatan untuk pengembangan ke depan. Salah satu fitur mewah yang hadir adalah Cruise Control. Menariknya, fitur ini sudah bisa diaktifkan sejak kecepatan yang cukup rendah, yakni sekitar 7 km/jam. Cara pengoperasiannya pun tergolong mudah. Polytron Fox 350 Pengendara cukup memastikan posisi gas sedang diputar secara konstan, pastikan tidak ada tarikan pada tuas rem, lalu tekan tombol "Cruise" di sisi kanan setang. Seketika, indikator pada panel instrumen akan ada tulisan cruise dan motor akan melaju sesuai kecepatan yang ditentukan tanpa perlu memutar gas. Untuk menonaktifkannya, pengendara cukup menarik tuas rem sedikit saja. Fitur yang sangat membantu saat menghadapi kemacetan di area menanjak adalah Hill Start Assist (HSA). Cara kerjanya cukup praktis, saat berhenti di tanjakan, pengendara hanya perlu menekan dan menahan tuas rem baik depan atau belakang. Polytron Fox 350 Setelah muncul indikator HSA di layar instrumen, rem bisa dilepas. Motor memang akan mundur sedikit di awal, namun setelah itu sistem akan menahan laju motor melalui dinamo belakang. Baik saat berkendara sendiri maupun berboncengan, HSA pada Fox 350 mampu menahan beban motor dengan sangat baik sehingga pengendara tidak perlu terus-menerus menarik rem. Terakhir adalah fitur Regenerative Braking. Sistem ini berfungsi mengubah energi yang tidak terpakai menjadi daya listrik untuk mengisi kembali baterai. Secara rasa berkendara, saat tangan melepas selongsong gas, akan terasa sedikit efek menahan, meski memang tidak sebesar engine brake pada motor konvensional. Efek pengisian energi ini akan semakin besar jika pengendara sambil menarik tuas rem. Semakin dalam rem ditarik, semakin besar pula energi yang diregenerasi masuk kembali ke dalam baterai. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang