Polytron memilih langkah berbeda dalam mengarungi pasar kendaraan listrik Tanah Air. alih mematok target ambisius, merek lokal ini justru mengambil pendekatan realistis dan adaptif. Berdasarkan data distribusi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil listrik Polytron tercatat mencapai 455 unit sepanjang tahun lalu. Polytron G3+ Angka tersebut berasal dari model G3+ sebanyak 282 unit dan G3 sebanyak 173 unit, dengan distribusi yang mulai berjalan sejak Juli 2025. Capaian ini menunjukkan langkah awal Polytron di segmen mobil listrik memang belum besar, namun dianggap sebagai fondasi penting untuk pertumbuhan ke depan. Commercial Director Polytron, Tekno Wibowo, mengakui pihaknya mulai menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi sejak memulai perakitan mobil listrik di Indonesia. Mobil listrik Polytron G3 meluncur di Indonesia pada Selasa (6/5/2025). “Ternyata merakit mobil tidak semudah yang kita bayangkan, banyak penyesuaian,” ujar Tekno di Jakarta, Selasa (20/1/2026). Ia juga menyinggung bahwa angka distribusi Gaikindo belum sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan. “Kalau soal penjualan retail Gaikindo yang sekitar 450-an, barangnya mungkin masih ada di distributor atau diler,” kata dia. Dasbor Polytron G3 Saat ditanya soal minat pasar mobil listrik, Tekno tidak ingin buru-buru menarik kesimpulan. Bagi Polytron, kepuasan tersebut datang dari proses belajar dan adaptasi, bukan semata-mata angka penjualan. “Mau diinterpretasikan seperti apa juga boleh. Yang jelas target kita belum tercapai sesuai harapan, tapi kita cukup puas dengan pencapaian sekarang,” ucapnya. Mobil listrik Polytron G3 meluncur di Indonesia pada Selasa (6/5/2025). Soal target, Polytron sengaja tidak memasang patokan kaku. Menurut Tekno, perusahaan mematok target konservatif pada 2026. Yang terpenting bagi Polytron adalah menjaga keberlanjutan bisnis dan memastikan produk benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar. Tampilan Belakang Mobil Listrik Polytron G3 Polytron mengaku ingin menjual sebanyak mungkin unit, namun tetap realistis melihat kondisi persaingan dan preferensi konsumen. “Kami ingin jualan sebanyak mungkin, tapi harus lihat kompetisi dan konsumen. Kalau konsumen maunya yang murah-murah, kami enggak bisa apa-apa selain edukasi. Kami enggak punya produk di segmen murah itu. Pertanyaannya, murah itu speknya cocok enggak buat Indonesia?” kata dia. Sebagai gantinya, Polytron fokus pada segmen yang dinilai sesuai dengan karakter produknya. Tekno mencontohkan bahwa di pasar mobil bensin pun, yang paling laku bukan selalu yang paling murah. “SUV kami kelebihannya ruang baris kedua lebih luas, nyaman untuk keluarga atau ride-hailing. Dari sisi smart, kami punya fitur ADAS untuk membantu pengendara lebih aware di jalan,” ucap Tekno. Dengan pendekatan ini, Polytron berharap bisa membangun kepercayaan pasar secara bertahap, tanpa harus terbebani target penjualan yang terlalu kaku di fase awal pengembangan kendaraan listriknya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang