Kekhawatiran soal potensi kebakaran baterai dan keamanan pengisian daya di rumah masih menjadi ganjalan utama dalam adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia. Padahal, sebagian besar ketakutan tersebut dipicu oleh mitos yang beredar luas tanpa penjelasan teknis yang memadai. Survei Global EV Alliance (GEVA) 2025 mencatat, 77 persen dari 26.071 pengemudi EV di 30 negara menilai berbagai mitos, termasuk isu kebakaran, sebagai hambatan terbesar adopsi kendaraan listrik. Temuan ini menegaskan bahwa transisi menuju elektrifikasi tidak hanya soal kesiapan teknologi, tetapi juga edukasi publik yang berkelanjutan. Isu keselamatan ini turut diangkat Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) dalam kegiatan bertajuk “Zero Emission and Zero Accident” yang digelar di Museum Listrik Energi Baru, TMII, Jakarta, Sabtu (24/1/2026). Forum tersebut menjadi wadah berbagi pengalaman langsung para pengguna kendaraan listrik, sekaligus upaya meluruskan informasi yang selama ini keliru di masyarakat. Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) “Pengalaman pengguna membuktikan bahwa kendaraan listrik aman bila instalasi mengikuti standar,” kata Arwani Hidayat, Ketua KOLEKSI, dalam keterangan resminya. Menurut Arwani, risiko teknis memang tetap ada, terutama terkait instalasi listrik rumah yang tidak sesuai standar maupun potensi thermal runaway pada baterai. Namun, ia menegaskan bahwa risiko tersebut bukan sesuatu yang tak bisa diatasi. “Namun risiko ini dapat dicegah, dikelola, dan distandarisasi. Pemerintah perlu menetapkan aturan keselamatan yang jelas agar publik percaya dan berani beralih,” kata Arwani. Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) Lebih lanjut, Arwani menekankan pentingnya kehadiran standar nasional untuk instalasi home charging, sertifikasi teknisi, ketersediaan peralatan pemadam khusus baterai, serta SOP penanganan thermal runaway. Tanpa kerangka regulasi yang jelas, pemerintah daerah dan masyarakat akan terus berada dalam ketidakpastian, sementara mitos seputar EV semakin berkembang. Pada sisi lain, PLN menilai kolaborasi dengan komunitas pengguna kendaraan listrik sebagai elemen penting dalam membangun kepercayaan publik. “PLN telah mengoperasikan lebih dari 4.672 SPKLU di seluruh Indonesia dan terus meningkatkan standar keselamatan,” ujar Ronny Afrianto, Vice President VP Komersialisasi Produk Niaga, Divisi Pengembangan Produk Niaga (PPN) PLN. Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) Ronny menambahkan, masukan dari komunitas seperti KOLEKSI membantu PLN memastikan bahwa infrastruktur pengisian daya yang dibangun tidak hanya memadai secara jumlah, tetapi juga aman dan andal. Hal ini dinilai krusial dalam mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih dan hijau. Pada akhirnya, percepatan adopsi kendaraan listrik tidak cukup mengandalkan kecanggihan teknologi semata. Diperlukan komunikasi publik berbasis data serta pelibatan aktif komunitas pengguna untuk melawan misinformasi dengan pengalaman nyata. “Transisi energi membutuhkan kepercayaan. Adapun Kepercayaan tumbuh saat keselamatan diatur dengan jelas dan risiko dikelola secara profesional,” kata Arwani. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang